BI Sebut Dampak Konflik Timur Tengah Bersifat 2 Arah

Oleh: Sri Utami Setia Ningrum
Selasa, 07 April 2026 | 20:18 WIB
Ilustrasi gedung Bank Indonesia. (Foto/ist)
Ilustrasi gedung Bank Indonesia. (Foto/ist)

BeritaNasional.com -   Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyebut dampak konflik Timur Tengah bersifat dua arah. Kenaikan harga komoditas dan posisi Indonesia sebagai negara eksportir dapat memberikan efek positif bagi perekonomian, sehingga mampu mengimbangi tekanan terhadap nilai tukar akibat eskalasi tersebut.

Bank Indonesia mengoptimalkan pemanfaatan seluruh instrumen operasi moneter yang dimiliki serta kebijakan operasi moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar, merespons pelemahan nilai tukar yang menembus Rp17.000 per dolar AS.

“Di tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi, maka saat ini stabilitas menjadi prioritas bagi Bank Indonesia,” ujarnya di Jakarta, Selasa. (7/4/2026).

Lebih lanjut, Destry mengatakan BI secara konsisten dan terukur selalu berada di pasar uang, baik di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, maupun Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore.

Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari Selasa melemah 70 poin atau 0,41% menjadi Rp17.105 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp16.980 per dolar AS.

Sementara Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp17.092 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.037 per dolar AS.

Dalam menghadapi ketidakpastian global akibat perang Timur Tengah, sebelumnya BI juga menyatakan untuk melakukan kalibrasi instrumen intervensi rupiah dengan menyesuaikan respons terhadap tiga skenario dampak perang yaitu jika harga minyak dunia tidak terlalu tinggi, menengah dan tinggi. (Antara)

 sinpo

Editor: Sri Utami Setia Ningrum
Komentar: