Imbas Konflik Timur Tengah, Singapura Naikkan Tarif Listrik dan Gas
BeritaNasional.com - Imbas ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai berdampak nyata pada sektor energi Asia. Otoritas Pasar Energi Singapura (EMA) mengumumkan akan menaikkan tarif listrik dan gas kota yang diatur pemerintah untuk kuartal Juli hingga September 2026.
Kenaikan ini dipicu oleh melonjaknya harga gas alam global serta membengkaknya biaya produksi energi di negara tersebut.
Kenaikan Tarif
Berdasarkan pernyataan resmi EMA pada Selasa (30/6/2026), penyesuaian tarif untuk sektor rumah tangga adalah tarif listril dan gas. Tarif listrik naik signifikan 17 persen menjadi 31,91 sen Singapura per kilowatt-jam (kWh) sebelum dikenakan Pajak Barang dan Jasa (GST).
Lalu, tarif gas kota naik 7,1 persen menjadi 23,48 sen Singapura per kWh.
Langkah ini terpaksa diambil mengingat Singapura sangat bergantung pada pasokan energi luar negeri.
Saat ini, sekitar 95 persen kebutuhan pembangkit listrik dan bahan baku utama gas kota di negara singa tersebut dipenuhi melalui impor gas alam.
Efek Domino Ketegangan Geopolitik
Pihak EMA menjelaskan bahwa harga gas alam dunia telah meroket tajam sejak akhir Februari lalu dan terus bertahan di level tertinggi sepanjang April hingga Juni.
Kondisi ini dipicu langsung oleh konflik di Timur Tengah yang mengganggu stabilitas pasokan, sehingga membebani biaya operasional para produsen listrik dan gas di Singapura.
Peluang Turun di Akhir Tahun
Meski situasi di Timur Tengah saat ini masih penuh ketidakpastian, EMA memberikan sedikit angin segar bagi konsumen.
Jika konflik regional tersebut mereda dan kondisi global membaik, harga bahan bakar diperkirakan akan melandai.
Hal ini membuka peluang bagi pemerintah Singapura untuk menurunkan kembali tarif listrik dan gas kota pada kuartal keempat tahun 2026.
PERISTIWA | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
DUNIA | 2 hari yang lalu
EKBIS | 5 jam yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
POLITIK | 2 hari yang lalu







