Stok Beras Diproyeksi Tembus 16 Juta Ton, Ketahanan Pangan RI Makin Kuat

Oleh: Tim Redaksi
Minggu, 12 April 2026 | 04:01 WIB
Pedagang beras di sebuah pasar. (Beritanasional/Oke Atmadja)
Pedagang beras di sebuah pasar. (Beritanasional/Oke Atmadja)

BeritaNasional.com - Ketahanan pangan pokok strategis Indonesia diproyeksikan berada dalam kondisi kuat, dengan mayoritas kebutuhan konsumsi masyarakat ditopang oleh produksi dalam negeri. Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Nasional Tahun 2026 yang disusun Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama kementerian dan lembaga terkait, dari 10 komoditas pangan pokok strategis, hanya tiga yang masih membutuhkan impor.

Sementara itu, sejumlah komoditas seperti beras, jagung, bawang merah, cabai, daging ayam ras, telur ayam ras, dan gula diproyeksikan tidak memerlukan impor untuk kebutuhan konsumsi.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyebutkan bahwa kondisi stok beras nasional sangat kuat dan terus meningkat.

"Berdasarkan data Proyeksi Neraca Pangan, kita ada minimal 10. Nah beras kita sangat bagus, artinya beras dengan produksi tahun lalu 34,7 juta ton. Kemudian carry over stock tahun kemarin ke tahun ini adalah 12 juta ton. Nah target kita di tahun 2026, kita akan punya carry over stock ke 2027 hingga 16 juta ton. Ini besar sekali," ujarnya dikutip, Minggu (11/4/2026).

Proyeksi tersebut dihitung dari stok awal 2026 sebesar 12,4 juta ton, ditambah produksi tahunan 34,7 juta ton, kemudian dikurangi kebutuhan konsumsi sekitar 31,1 juta ton. Dengan demikian, stok beras nasional pada akhir 2026 diperkirakan mencapai 16 juta ton.

Pemerintah juga memperkuat keberpihakan kepada petani melalui penugasan Perum Bulog untuk menyerap gabah hasil panen. Stok beras yang dikelola Bulog dipastikan tanpa impor sejak 2025 dan sepenuhnya berasal dari produksi dalam negeri.

"Cadangan beras kita di Bulog sekarang ini mencapai lebih 4 juta ton. Kita akan menyerap lagi sampai 4 juta ton. Artinya dari sisi produksi, gabahnya sangat bagus," ujar Deputi Ketut.

Selain beras, komoditas jagung pakan juga telah mencapai swasembada setelah Indonesia menghentikan impor sejak 2025. Komoditas lain seperti daging ayam ras, telur ayam ras, cabai, dan bawang merah juga dinilai mampu memenuhi kebutuhan dari produksi domestik.

"Kemudian kita juga punya cadangan jagung yang bagus. Jagung pakan kita sudah swasembada. Kemudian daging ayam kita kuat. Telur kita kuat. Cabai kita kuat. Bawang merah kita kuat," kata Ketut lagi.

Namun demikian, pemerintah masih melakukan impor terbatas untuk beberapa komoditas tertentu.

"Kita hanya mengimpor dua atau tiga yang dominan. Kedelai dan bawang putih. Lalu daging sapi tapi tidak dominan," ungkap dia.

Pemerintah, lanjut Ketut, terus mendorong peningkatan produksi dalam negeri, termasuk untuk komoditas yang belum sepenuhnya mandiri. Upaya tersebut dilakukan bersama Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

"Kita sudah mulai produksi dan Bapak Menteri Pertanian akan bergerak terus. Sebagaimana kemarin di acara taklimat di Istana, beliau menyampaikan target-target ke depan. Bagaimana bawang putih, kemudian termasuk juga penguatan produksi kedelai, susu, dan lain sebagainya," jelas Ketut.

"Tentu kekuatan kita, stok kita relatif sangat bagus di tahun 2026 ini dan mudah-mudahan ke depan juga semakin kuat kita," pungkas dia.

Sementara itu, Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, sebelumnya menyatakan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada pangan untuk komoditas utama sumber karbohidrat dan protein.

"Pangan kita ini sudah swasembada pangan, protein dan karbohidrat. Jadi pangan yang dibutuhkan tubuh itu protein dan karbohidrat. Kita sudah swasembada hari ini," papar Amran Sulaiman dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi IV DPR RI di Jakarta (7/4/2026).

Dalam Proyeksi Neraca Pangan Nasional 2025, produksi beras mencapai 34,7 juta ton, melampaui kebutuhan konsumsi sebesar 31,1 juta ton, sehingga tidak diperlukan impor. Kondisi serupa juga terjadi pada daging ayam ras dan telur ayam ras, di mana produksi nasional melebihi konsumsi.

Produksi daging ayam ras tercatat sebesar 4,29 juta ton dengan konsumsi 4,12 juta ton, sedangkan produksi telur ayam ras mencapai 6,54 juta ton dengan konsumsi 6,47 juta ton. Untuk jagung pakan, produksi mencapai 16,16 juta ton dengan kebutuhan konsumsi 15,23 juta ton, sehingga tidak diperlukan impor sepanjang 2025.sinpo

Editor: Harits Tryan
Komentar: