Amran Beberkan Strategi Kunci Pemerintah Capai Swasembada Pangan

Oleh: Tim Redaksi
Kamis, 16 April 2026 | 04:00 WIB
Kepala Bapanas sekaligus Mentan Andi Amran Sulaiman saat diwawancarai. (BeritaNasional/Elvis Sendouw)
Kepala Bapanas sekaligus Mentan Andi Amran Sulaiman saat diwawancarai. (BeritaNasional/Elvis Sendouw)

BeritaNasional.com - Pemerintah Indonesia menunjukkan keseriusan mengejar kemandirian pangan. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkapkan target swasembada pangan nasional yang awalnya diproyeksikan memakan waktu empat tahun kini dipercepat menjadi hanya satu tahun.

Pencapaian ini, menurut Amran, merupakan buah dari transformasi menyeluruh melalui sembilan strategi kunci yang menjadi fondasi ketahanan pangan nasional.

"Target swasembada pangan nasional yang semula diproyeksikan dalam waktu empat tahun berhasil dipercepat menjadi satu tahun melalui transformasi menyeluruh yang dijalankan Kementerian Pertanian," ujar Amran dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (15/4/2026).

Strategi pertama yang diusung adalah perombakan besar-besaran pada kebijakan dan regulasi. Sebanyak 145 aturan mengenai pupuk yang sebelumnya sangat rumit kini dipangkas.

“Kita perbaiki mulai dari kebijakan. Kebijakan regulasi kita perbaiki. Perpres-Inpres saja sampai hari ini sudah 16 Perpres-Inpres yang dikeluarkan sektor pangan untuk mempermudah pertanian kita seluruh Indonesia,” jelas Amran yang dikutip dari Antara pada Rabu (15/4/2026).

Dengan pemangkasan ini, distribusi pupuk tidak lagi memerlukan persetujuan berjenjang dari ratusan kepala daerah, melainkan langsung dari Kementan ke PT Pupuk Indonesia untuk diteruskan ke petani.

Selain regulasi, Amran menekankan pentingnya reformasi tata kelola pupuk dengan meningkatkan alokasi hingga 9,55 juta ton. Menariknya, harga pupuk justru berhasil ditekan.

“Contoh pupuk, turun 20 persen. Tidak pernah terjadi selama Republik ini merdeka. Yang kedua, volumenya kita tambah,” tambahnya.

Efisiensi juga dilakukan melalui refocusing anggaran sebesar Rp3,8 triliun. Anggaran yang sebelumnya dialokasikan untuk perjalanan dinas dan renovasi kantor yang tidak mendesak, kini dialihkan sepenuhnya untuk irigasi, benih unggul, dan alat mesin pertanian (alsintan).

Untuk meningkatkan produktivitas, pemerintah mendorong penggunaan benih unggul secara gratis dan pompanisasi di lahan tadah hujan. Amran menargetkan produktivitas naik signifikan.

“Berarti produksi meningkat kan? Lalu benih unggul. Produktivitasnya 9 ton, sampai 10 ton. Minimal 8 ton, kita belikan benih dan bagikan secara gratis,” katanya.

Strategi lainnya mencakup:

Ekstensifikasi: Program cetak sawah baru seluas 200 ribu hektare.

Infrastruktur: Revitalisasi 61 bendungan untuk pengairan 400 ribu hektare lahan.

Modernisasi: Penggunaan drone dan teknologi presisi yang diklaim mampu memangkas biaya produksi hingga 50 persen.

Hasil Nyata: Stok Beras Pecah Rekor Nasional

Berbagai intervensi ini telah membuahkan hasil yang diklaim sangat signifikan. Produksi beras nasional pada tahun 2025 meningkat sebesar 4,07 juta ton, jauh melampaui kebutuhan domestik bulanan. Amran menegaskan bahwa data ini telah tervalidasi secara internasional.

“Kalau digabung semua ini, berarti ada tambahan tanam sekitar 1,5 juta hektare. Dikalikan produktivitas rata-rata, kenaikan produksi sekitar 4 juta ton. Itu sesuai dengan data BPS, FAO, dan USDA Amerika. Kalau ada yang mau protes, ya protes itu ke FAO, protes ke Amerika (USDA), protes ke BPS,” tegasnya.

Indikator kesejahteraan petani juga menunjukkan tren positif dengan Nilai Tukar Petani (NTP) mencapai 125,35, angka tertinggi dalam 34 tahun terakhir. Sementara itu, stok beras di Bulog mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.

“Di Bulog adalah dulu maksimal selama Republik Indonesia merdeka, stoknya (CBP) maksimal 2,6 juta ton. Hari ini 4,8 juta ton, sebentar lagi 5 juta. Hampir dua kali lipat,” tandasnya.

Sumber: Antarasinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: