Perkuat Militer, Pemerintahan Trump Desak Produsen Mobil dan Manufaktur AS Produksi Senjata
BeritaNasional.com - Pemerintahan Donald Trump dilaporkan tengah mendorong perusahaan otomotif dan manufaktur besar di Amerika Serikat (AS) untuk terjun lebih dalam ke industri pertahanan.
Hal tersebut dilakukan untuk memperluas kapasitas produksi senjata nasional yang selama ini hanya dikuasai oleh segelintir kontraktor pertahanan.
Berdasarkan laporan Wall Street Journal pada Rabu (15/4/2026) waktu setempat, sejumlah pejabat senior pertahanan telah menjalin komunikasi intensif dengan raksasa otomotif seperti General Motors (GM) dan Ford.
Diskusi tersebut berfokus pada peluang peningkatan produksi senjata serta berbagai perlengkapan militer lainnya. Selama ini, produksi militer AS didominasi oleh kelompok kecil kontraktor pertahanan eksklusif.
Meski banyak perusahaan manufaktur nonpertahanan memiliki kontrak dengan Pentagon, cakupannya biasanya sangat terbatas pada penelitian spesifik atau produk tertentu dengan nilai kesepakatan yang tidak terlalu besar.
Namun, eskalasi konflik di berbagai belahan dunia memaksa Washington untuk mengubah strategi.
Kebutuhan akan pasokan amunisi dan peralatan taktis canggih, seperti rudal dan sistem anti-drone, kini menjadi prioritas utama yang tidak lagi bisa hanya mengandalkan mitra lama.
Sumber internal yang dikutip dari Xinhua News pada Kamis (16/4/2026) menyebutkan pembicaraan dengan produsen mobil ini sebenarnya dimulai sebelum konflik Iran pecah.
Namun, ketegangan perang yang terjadi saat ini semakin menonjolkan kerentanan persediaan amunisi AS.
Pihak Pentagon dan para anggota parlemen mulai mengkhawatirkan kapasitas manufaktur senjata domestik, terutama setelah AS dan sekutu NATO mengirimkan bantuan senjata dalam jumlah masif ke Ukraina sejak tahun 2022. Kondisi ini membuat militer AS merasa perlu memperluas jaringan mitra komersial demi mempercepat produksi di masa krisis.
Anggaran Jumbo USD1,5 Triliun
Sebagai langkah nyata untuk memperkuat pertahanan, Pentagon telah mengajukan proposal anggaran fantastis senilai USD1,5 triliun. Dana besar ini direncanakan untuk memperluas kapasitas produksi amunisi secara massal, meningkatkan pengembangan dan manufaktur drone, dan mempercepat pengadaan sistem pertahanan udara dan rudal canggih.
Transformasi produsen mobil menjadi "mesin perang" ini diharapkan dapat mengembalikan supremasi manufaktur militer Amerika Serikat di tengah situasi geopolitik yang semakin tidak menentu.
GAYA HIDUP | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
PERISTIWA | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu







