Iran Ancam Tutup Kembali Selat Hormuz jika Blokade AS Berlanjut

Oleh: Tim Redaksi
Sabtu, 18 April 2026 | 18:50 WIB
Ilustrasi selat Hormuz. (Foto/Gemini AI).
Ilustrasi selat Hormuz. (Foto/Gemini AI).

BeritaNasional.com - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali memuncak. Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf mengancam Selat Hormuz tidak akan lagi terbuka bagi pelayaran internasional jika blokade ekonomi yang dilakukan Amerika Serikat (AS) terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran terus berlanjut.

Melalui unggahan di platform media sosial X pada Sabtu (18/4/2026) pagi, Qalibaf membantah keras pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut Iran telah menyetujui poin-poin kesepakatan damai. Ia menegaskan klaim tersebut sepenuhnya adalah kebohongan.

"Mereka tidak memenangkan perang dengan kebohongan ini, dan mereka pasti tidak akan mendapatkan apa pun dalam negosiasi. Pelayaran melalui Selat Hormuz nantinya hanya akan dilakukan berdasarkan 'rute yang telah ditentukan' dan dengan 'izin dari Iran'," tegas Qalibaf.

Sebelumnya, dalam wawancara dengan CBS News, Donald Trump mengeklaim bahwa Teheran telah menyetujui segalanya untuk mencapai perdamaian. Poin-poin yang diklaim Trump antara lain:

  • Pemusnahan uranium yang diperkaya milik Iran tanpa keterlibatan pasukan darat AS.
  • Penghentian dukungan Iran terhadap kelompok Hizbullah dan Hamas.
  • Pertemuan lanjutan kedua belah pihak pada akhir pekan ini.

Namun, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei langsung memberikan bantahan melalui stasiun televisi pemerintah IRIB TV. Ia menyatakan Iran tidak akan pernah mentransfer uranium yang diperkaya ke negara asing, apalagi mengirimnya ke Amerika Serikat.

Selat Hormuz yang merupakan jalur vital bagi pasokan minyak dunia kini berada dalam pengawasan ketat militer Iran. 

Sejak 28 Februari, Iran telah melarang kapal-kapal yang berafiliasi dengan Israel dan Amerika Serikat untuk melintas sebagai respons atas serangan gabungan kedua negara tersebut ke wilayah Iran.

Situasi semakin rumit setelah perundingan damai di Islamabad, Pakistan, menemui jalan buntu pekan lalu. Sebagai balasan, Amerika Serikat memberlakukan blokade terhadap semua kapal yang menuju atau meninggalkan pelabuhan Iran melalui selat tersebut.

Meski ancaman penutupan selat mencuat, Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi sempat menyatakan Selat Hormuz akan tetap "sepenuhnya terbuka" untuk pelayaran komersial selama masa gencatan senjata dua minggu yang dimulai pada 8 April 2026.

Namun, pernyataan Qalibaf memberikan sinyal bahwa stabilitas di jalur tersebut sangat bergantung pada sikap AS terkait blokade pelabuhan. 

Di sisi lain, laporan dari Axios menyebutkan negosiasi putaran kedua antara AS dan Iran dijadwalkan kembali berlangsung di Pakistan pada Minggu (19/4/2026).

Sumber: Xinhua Newssinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: