Imbas Geopolitik sampai Krisis Energi, Kapolri ke Personel Brimob: Kita Harus Selalu Siap dan Waspada

Oleh: Bachtiarudin Alam
Selasa, 21 April 2026 | 17:25 WIB
Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo saat memberikan keterangan tentang arus balik Lebaran. (BeritaNasional/Bachtiarudin Alam)
Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo saat memberikan keterangan tentang arus balik Lebaran. (BeritaNasional/Bachtiarudin Alam)

BeritaNasional.com -  Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo berpesan kepada personel Brimob harus selalu siap dan waspada menghadapi berbagai potensi dinamika yang mungkin terjadi, imbas kondisi geopolitik dan krisis energi secara global.

Pesan itu disampaikan Sigit saat membuka rapat kerja teknis (rakernis) Korps Brimob Polri yang dihadiri 7.000 anggota Brimob di Lapangan Mako Brimob Polri, Kota Depok Jawa Barat, Selasa (21/4/2026). 

“Kita semua harus selalu siap, kita semua harus selalu waspada. Kita semua harus mempersiapkan diri untuk terus melatih menghadapi segala macam dinamika yang mungkin terjadi,” kata Sigit dalam arahannya.

Hal itu disampaikan Sigit menyangkut kondisi dampak dari konflik yang terjadi antara Israel - Amerika Serikat (AS) melawan Iran. Selanjutnya sambugn dia,  berkembang hingga berdampak ke negara telukyang menjadi pangkalan Amerika termasuk serangan Israel ke Lebanon.

Konflik ini tentunya menimbulkan situasi dan eskalasi global yang bisa terus meluas. Di satu sisi banyak korban dari masyarakat sipil, bangunan, fasilitas publik, hingga dampak gangguan dari sektor energi yang dialami hampir seluruh negara.

“Kita lihat bahwa beberapa negara termasuk di kawasan ini telah menetapkan status darurat energi nasional. Di beberapa wilayah di negara-negara sekitar kita sudah mengumumkan untuk menggunakan energi seefisien mungkin,” jelasnya.

“Bahkan beberapa negara juga sudah mulai mengatur terkait dengan pemberlakuan WFH, termasuk Indonesia pun saat ini juga sudah melakukan WFH atau WFO dalam satu minggu satu kali,” tambah dia.

Sebab, konflik ini berdampak terhadap meningkatnya harga minyak dunia akibat Selat Hormuz yang mengalami gangguan. Seperti beberapa waktu lalu, harga minyak sempat di atas 100 USD per barel dan angka tersebut bisa terus naik jika konflik tak kunjung mereda.

Meskipun, beberapa negara telah berupaya mengatasi dampak krisis energi seperti di İndonesia yang membuka kilang-kilang lifting baru maupun sumur lama. Tetapi, potensi gejolak akibat krisis energi, tak bisa dipungkiri masih mungkin terjadi.

“Namun di sisi lain kita juga melihat bahwa khusus BBM non-subsidi dan LPG non-subsidi terjadi peningkatan dan ini implikasinya akan berdampak terhadap naiknya harga-harga,” jelasnya.

“Yang tentunya ini akan menimbulkan reaksi, akan menimbulkan potensi terjadinya eskalasi yang meningkat khususnya terkait dengan masalah keamanan di dalam negeri,"ungkapnya. 

Maka dari itu, anggota Brimob sebagai bagian dari satuan Korps Bhayangkara diharapkan bisa mempersiapkan diri dalam menghadapi ancaman yang berpotensi mengganggu Kamtibmas.

“Rekan-rekan akan menjadi salah satu tim yang menjadi andalan pada saat situasi betul-betul membutuhkan kehadiran rekan-rekan. Oleh karena itu tolong pelajari betul terkait dengan situasi dan eskalasi yang ada, pelajari kondisi dan medan di lapangan,” tuturnya.

“Persiapkan peralatan yang rekan-rekan miliki sehingga pada saat rekan-rekan turun peralatan-peralatan yang ada yang melekat pada diri rekan-rekan siap untuk digunakan. Di satu sisi rekan-rekan tentunya juga harus terus menunjukkan bahwa Brimob adalah pasukan yang juga sangat dekat dengan masyarakat,” tukasnya. sinpo

Editor: Sri Utami Setia Ningrum
Komentar: