Brimob Ubah Strategi! Penanganan Aksi Massa Kini Utamakan Pendekatan Humanis
BeritaNasional.com - Komandan Korps (Dankor) Brimob Polri, Komjen Pol Ramdani Hidayat menegaskan pihaknya telah menyusun skema untuk penanganan aksi massa untuk tidak lagi mengedepankan kekerasan, tetapi lebih kepada upaya persuasif dan humanis.
Skema ini telah menjadi hasil rapat yang dibahas dalam rapat kerja teknis (rakernis) Korps Brimob Polri dihadiri 7.000 anggota Brimob di Lapangan Mako Brimob Polri, Kota Depok pada Selasa (21/4/2026) kemarin.
“Penanganan massa sekarang tidak harus dengan kekerasan ya. Kita tunjukkan dulu pakai soft power. Ada dari Binmas, ada dari Sabhara. Jadi kekuatan Brimob adalah kekuatan terakhir,” tegas Ramdani dikutip Rabu (21/4/2026).
Skema itulah, lanjut Ramdani, telah menjadi pembahasan untuk nantinya menyamakan persepsi seluruh anggota mulai dari dari tingkat pusat sampai di daerah khususnya pada Korbrimob Polri.
“Jadi, kita sampaikan bahwa PHH itu bukan pasukan huru-hara, tapi pasukan untuk mencegah anarkis. Anarkisnya yang kita utamakan untuk pencegahan sampai penindakan,” tuturnya.
“Kalau unjuk rasanya sih, semua boleh-boleh saja unjuk rasa, tapi kalau sampai pengrusakan, pembakaran, kemudian membuat jiwa seseorang terancam, bahkan sampai meninggal dunia, baru kita nanti tindak. Itu sebenarnya,” sambung dia.
Sementara terkait pesan dari Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk kesiapan Satuan Brimob mengantisipasi berbagai kemungkinan gangguan kamtibmas, dampak dari kondisi geopolitik dan krisis energi yang melanda dunia.
Ramdani menyatakan pihaknya sejauh ini terus berkoordinasi dengan satuan lain seperti intelijen dan satuan kewilayahan. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kondisi dan situasi Kamtibmas.
“Alhamdulillah masih tertangani semuanya. Makanya saya bilang, unjuk rasa yang ada sekarang masih bisa diatasi oleh kewilayahan. Yang jelas kita harus siap saja semuanya, gitu,” tuturnya.
Sebelumnya, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo berpesan kepada personel Brimob harus selalu siap dan waspada menghadapi berbagai potensi dinamika yang mungkin terjadi imbas kondisi geopolitik dan krisis energi secara global.
Pesan itu disampaikan Sigit saat membuka rapat kerja teknis (rakernis) Korps Brimob Polri yang dihadiri 7.000 anggota Brimob di Lapangan Mako Brimob Polri, Kota Depok pada Selasa (21/4/2026).
“Kita semua harus selalu siap, kita semua harus selalu waspada. Kita semua harus mempersiapkan diri untuk terus melatih menghadapi segala macam dinamika yang mungkin terjadi,” kata Sigit dalam arahannya.
Hal itu disampaikan Sigit, menyangkut kondisi dampak dari konflik yang terjadi antara Israel - Amerika Serikat (AS) melawan Iran. Lalu, berkembang hingga berdampak ke negara teluk yang menjadi pangkalan Amerika, termasuk serangan Israel ke Lebanon.
Konflik ini tentunya menimbulkan situasi dan eskalasi global yang bisa terus meluas. Di satu sisi banyak korban dari masyarakat sipil, bangunan, fasilitas publik, hingga dampak gangguan dari sektor energi yang dialami hampir seluruh negara.
“Kita lihat bahwa beberapa negara termasuk di kawasan ini telah menetapkan status darurat energi nasional. Di beberapa wilayah di negara-negara sekitar kita sudah mengumumkan untuk menggunakan energi seefisien mungkin,” jelasnya.
“Bahkan beberapa negara juga sudah mulai mengatur terkait dengan pemberlakuan WFH, termasuk Indonesia pun saat ini juga sudah melakukan WFH atau WFO dalam satu minggu satu kali,” tambah dia.
PERISTIWA | 2 hari yang lalu
HUKUM | 2 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
HUKUM | 2 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
HUKUM | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
HUKUM | 2 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu







