Laporan JP Morgan Tempatkan Indonesia Peringkat Ke-2 Dunia Paling Tahan Guncangan Energi

Oleh: Tim Redaksi
Jumat, 24 April 2026 | 15:13 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. (Foto/Tim Media Presiden)
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. (Foto/Tim Media Presiden)

BeritaNasional.com - Di tengah ketidakpastian situasi geopolitik dunia, Indonesia menorehkan prestasi membanggakan di sektor energi. Laporan terbaru dari J.P. Morgan Asset Management bertajuk Eye on the Market menempatkan Indonesia di peringkat kedua dunia sebagai negara dengan ketahanan ekonomi terbaik terhadap guncangan energi global 2026.

Laporan bertajuk "Pandora’s Bog: The Global Energy Shock of 2026 yang dirilis akhir Maret ini menganalisis 52 negara yang mewakili 82 persen konsumsi energi dunia. 

Indonesia tercatat memiliki insulation factor (faktor pelindung) sebesar 77 persen, hanya berselisih tipis dari Afrika Selatan (79 persen) dan berada di atas China (76 persen) serta Amerika Serikat (70 persen).

Tingginya peringkat Indonesia tidak lepas dari pemanfaatan sumber daya alam sendiri. Kekuatan ketahanan energi nasional ditopang oleh produksi batu bara domestik yang memenuhi 48 persen konsumsi energi nasional, diikuti gas bumi sebesar 22 persen, serta energi terbarukan 7 persen.

Selain itu, Indonesia dinilai sangat aman dari risiko gangguan jalur distribusi energi internasional. 

Ketergantungan impor minyak melalui Selat Hormuz hanya menyumbang 1 persen dari konsumsi energi primer nasional.

Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan negara-negara Asia Timur seperti Korea Selatan (33 persen) atau Singapura (26 persen) yang sangat rentan terhadap konflik di wilayah tersebut.

Respons Menko Airlangga Hartarto

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyambut positif laporan tersebut. Menurut dia, hasil ini merupakan validasi atas kebijakan strategis pemerintah dalam menjaga keseimbangan energi.

“Hasil ini bukan sekadar apresiasi atas kondisi saat ini, melainkan validasi atas pilihan kebijakan jangka panjang Pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber energi domestik dan akselerasi transisi energi. Di tengah volatilitas harga energi global, posisi ini memberikan ruang fiskal yang lebih terkendali bagi APBN 2026 dan membantu melindungi daya beli masyarakat serta kelangsungan aktivitas dunia usaha,” ujar Menko Airlangga melalui keterangan persnya yang dikutip pada Jumat (24/4/2026).

Meski mendapatkan predikat sebagai negara paling tahan guncangan, Menko Airlangga menegaskan bahwa pemerintah tidak akan lengah. Indonesia akan tetap fokus memperkuat kebijakan di beberapa sektor krusial, antara lain optimalisasi produksi migas dengan menekan defisit neraca migas dan memperkuat penerimaan negara.

Selain itu, transisi energi dengan mempercepat pengembangan energi baru terbarukan (EBT).

Lalu, kendaraan listrik dengan memperluas adopsi kendaraan berbasis baterai (KBLBB) untuk mengurangi ketergantungan pada minyak. Diversifikasi pasokan memperkuat jalur logistik energi untuk memitigasi risiko geopolitik.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: