BI: Inflasi Turun ke 2,42 Persen, Kebijakan dan Sinergi Jadi Kunci

Oleh: Tim Redaksi
Selasa, 05 Mei 2026 | 04:00 WIB
Pedagang menilah cabai rawit di Pasar Iduk, Kramat Jati, Jakarta, Rabu (8/4/2026).(Beritanasional.com/Oke Atmaja)
Pedagang menilah cabai rawit di Pasar Iduk, Kramat Jati, Jakarta, Rabu (8/4/2026).(Beritanasional.com/Oke Atmaja)

BeritaNasional.com - Bank Indonesia menyatakan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada April 2026 melandai menjadi 2,42 persen secara tahunan (year on year/yoy), turun dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 3,48 persen (yoy). Penurunan ini dinilai sebagai hasil konsistensi kebijakan moneter serta sinergi antara berbagai pemangku kepentingan.

Bank Indonesia bersama pemerintah pusat dan daerah yang tergabung dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID) disebut berperan dalam menjaga stabilitas inflasi. Selain itu, penguatan implementasi program ketahanan pangan nasional turut mendukung terkendalinya inflasi.

"Ke depan, Bank Indonesia meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen (rentang 1,5-3,5 persen) pada 2026 dan 2027," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso dilansir dari Antara, Selasa (5/5/2026).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada Senin (4/5), IHK pada April 2026 mengalami inflasi sebesar 0,13 persen secara bulanan (month to month/mtm). Secara tahunan, angka tersebut lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.

Inflasi inti pada April 2026 tercatat sebesar 0,23 persen (mtm), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,13 persen (mtm). Kenaikan ini didorong oleh komoditas minyak goreng seiring meningkatnya harga crude palm oil (CPO) global, di tengah ekspektasi inflasi yang tetap terjaga.

Secara tahunan, inflasi inti tercatat sebesar 2,44 persen (yoy), menurun dari 2,52 persen (yoy) pada bulan sebelumnya.

Sementara itu, kelompok volatile food pada April 2026 mengalami deflasi sebesar 0,88 persen (mtm), berbalik dari inflasi 1,58 persen (mtm) pada bulan sebelumnya. Penurunan ini dipicu oleh turunnya harga komoditas seperti daging ayam ras, telur ayam ras, dan aneka cabai seiring normalisasi permintaan pasca Hari Besar Keagamaan Nasional Idul Fitri serta berlangsungnya panen raya.

Secara tahunan, kelompok volatile food mencatat inflasi sebesar 3,37 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 4,24 persen (yoy).

Bank Indonesia memperkirakan inflasi kelompok volatile food tetap terkendali ke depan, didukung sinergi bersama TPIP dan TPID serta penguatan program Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).

Adapun kelompok administered prices pada April 2026 mengalami inflasi sebesar 0,69 persen (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,31 persen (mtm). Kenaikan ini dipicu oleh tarif angkutan udara, bensin, serta bahan bakar rumah tangga seiring meningkatnya harga avtur dan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) serta LPG nonsubsidi.

Secara tahunan, kelompok administered prices mencatat inflasi sebesar 1,53 persen (yoy), turun signifikan dari 6,08 persen (yoy) pada bulan sebelumnya.

Sumber: Antarasinpo

Editor: Harits Tryan
Komentar: