Pertamax Belum Akan Turun Meski Konflik AS-Iran Mereda, Pemerintah Tunggu Selat Hormuz Dibuka

Oleh: Lydia Fransisca
Jumat, 19 Juni 2026 | 11:57 WIB
Warga melakukan pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax di SPBU Pertamina Cikini, Jakarta, Rabu (10/6/2026). (Beritanasional.com/Oke Atmaja)
Warga melakukan pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax di SPBU Pertamina Cikini, Jakarta, Rabu (10/6/2026). (Beritanasional.com/Oke Atmaja)

BeritaNasional.com - Pemerintah belum berencana menurunkan harga BBM non-subsidi seperti Pertamax meski ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mulai mereda. 

Pasalnya, pemerintah masih menunggu implementasi kesepakatan perdamaian kedua negara, termasuk kepastian terbukanya kembali Selat Hormuz sebagai jalur utama distribusi minyak dunia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, evaluasi harga BBM non-subsidi baru dapat dilakukan setelah kondisi distribusi energi global benar-benar stabil.

“Ya pertama kan penandatanganan, harapannya besok betul-betul bisa dilaksanakan. Dengan kembali terbukanya Selat Hormuz kan kita baru lihat penyesuaian terhadap harga lagi,” kata Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip Jumat (19/6/2026).

Menurut Airlangga, pemerintah tidak hanya mempertimbangkan tercapainya kesepakatan politik antara AS dan Iran, tetapi juga melihat dampaknya terhadap rantai pasok energi global. 

Adapun Selat Hormuz merupakan salah satu jalur strategis pengiriman minyak mentah dari kawasan Timur Tengah ke berbagai negara.

Karena itu, penurunan harga BBM tidak bisa dilakukan secara otomatis setelah tercapai kesepakatan damai.

“Ini kan tidak otomatis, kita lihat juga implementasi daripada perjanjian perdamaian,” ujar Airlangga.

Saat ditanya kapan pemerintah akan mulai mempertimbangkan penyesuaian harga Pertamax, Airlangga belum memberikan kepastian waktu. 

Ia menegaskan pemerintah masih memantau perkembangan distribusi minyak pasca-kesepakatan tersebut.

“Ya barangnya sampai di mana kan kita lihat,” ungkapnya menandasi.sinpo

Editor: Harits Tryan
Komentar: