Iran Kerahkan Ratusan Kapal Cepat di Selat Hormuz, Ketegangan Memanas?
BeritaNasional.com - Ketegangan di jalur pelayaran global kembali meningkat. Berdasarkan analisis citra satelit dan data intelijen terbaru, Iran diduga kuat tengah mengerahkan formasi besar kapal serang cepat untuk mengawal kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Laporan ini dirilis oleh Windward, sebuah perusahaan analisis maritim yang berbasis di London, pada Minggu (10/5/2026). Temuan ini mengindikasikan adanya perubahan taktik militer Iran di wilayah perairan paling strategis di dunia tersebut.
Dalam unggahannya di media sosial, Windward mengungkapkan adanya pemandangan tak biasa pada Sabtu (9/5/2026).
Sebuah kapal pengangkut barang curah (bulk carrier) terlihat berlayar dengan dikelilingi oleh formasi kapal berkecepatan tinggi yang bergerak rapat, sebuah pola yang identik dengan operasi pengawalan militer.
Data pemantauan menunjukkan aktivitas yang sangat intensif:
- Terdeteksi lima formasi besar yang melibatkan lebih dari 80 kapal cepat bergerak menuju arah utara.
- Di hari yang sama, tercatat enam kapal besar memasuki Teluk, termasuk dua kapal tanker minyak mentah raksasa (VLCC), dua kapal curah, dan dua tanker minyak.
- Satu unit kapal tanker minyak mentah super besar juga terpantau keluar meninggalkan area Teluk.
- Laporan dari Financial Times pada Sabtu juga memperkuat temuan ini. Iran disebut memiliki ratusan kapal serang cepat yang terorganisir dalam sebuah armada besar.
Menariknya, kapal-kapal ini tidak ditempatkan di pangkalan terbuka, melainkan disembunyikan secara strategis di sepanjang pantai selatan Iran, mulai dari teluk-teluk kecil, gua, hingga terowongan bawah tanah.
Strategi gerilya laut ini dilaporkan menjadi tantangan serius bagi kekuatan Angkatan Laut Amerika Serikat di wilayah tersebut.
Penggunaan armada kecil dan cepat ini dianggap sebagai bentuk blokade efektif yang mulai membebani arus pasokan energi global.
Situasi ini diprediksi akan terus meningkatkan tekanan diplomatik dan militer terhadap Amerika Serikat dan sekutunya, mengingat Selat Hormuz merupakan urat nadi utama bagi distribusi minyak dunia.
Sumber: Xinhua News
EKBIS | 1 hari yang lalu
PERISTIWA | 1 hari yang lalu
OLAHRAGA | 22 jam yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
PERISTIWA | 21 jam yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu





