Selat Hormuz Jadi Fokus Pembicaraan AS-Inggris

Oleh: Tim Redaksi
Selasa, 12 Mei 2026 | 15:00 WIB
Ilustrasi selat Hormuz. (Foto/doc. UKMTO)
Ilustrasi selat Hormuz. (Foto/doc. UKMTO)

BeritaNasional.com - Amerika Serikat dan Inggris menggelar pembicaraan terkait situasi di Selat Hormuz menjelang konferensi tingkat tinggi pertahanan internasional yang akan membahas keamanan jalur pelayaran strategis tersebut. Pertemuan diplomatik itu dilakukan di tengah meningkatnya perhatian global terhadap stabilitas kawasan Teluk.

Dilansir dari Al-Jazeera, Selasa (12/5/2026), Departemen Luar Negeri AS menyebut pembicaraan antara Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper berfokus pada upaya membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz. Jalur laut tersebut dinilai sangat penting bagi distribusi energi dan perdagangan internasional.

Diskusi itu berlangsung menjelang pertemuan sekitar 40 menteri pertahanan dari berbagai negara yang dijadwalkan membahas rencana perlindungan pelayaran di kawasan tersebut. Forum tersebut juga akan mengevaluasi langkah-langkah keamanan maritim setelah konflik di kawasan berakhir.

Menteri Pertahanan Inggris John Healey bersama mitranya dari Prancis, Catherine Vautrin, dijadwalkan memimpin sesi mitra koalisi dalam pertemuan tersebut. Keduanya diperkirakan akan memaparkan kontribusi militer yang dapat diberikan negara masing-masing untuk mendukung misi perlindungan Selat Hormuz.

Koalisi internasional disebut tengah menyusun skema pengamanan pelayaran guna memastikan aktivitas perdagangan global tetap berjalan aman dan lancar. Selat Hormuz selama ini menjadi salah satu jalur laut paling strategis di dunia karena dilalui sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah.

Sejumlah negara Barat menilai stabilitas keamanan di Selat Hormuz menjadi prioritas utama pascaperang, terutama untuk mencegah gangguan distribusi energi global. Pertemuan para menteri pertahanan itu diharapkan menghasilkan koordinasi bersama terkait pengerahan armada dan sistem pengamanan maritim internasional.

Sumber: Al-Jazeerasinpo

Editor: Harits Tryan
Komentar: