Andy Burnham Resmi Jadi PM Inggris Gantikan Starmer

Oleh: Kiswondari
Senin, 20 Juli 2026 | 14:58 WIB
PM Inggris baru, Andy Burnham. (BeritaNasional/UK Parliament)
PM Inggris baru, Andy Burnham. (BeritaNasional/UK Parliament)

BeritaNasional.com - Inggris menyambut Perdana Menteri (PM) baru mereka, Andy Burnham yang menjadi PM ketujuh dalam satu dekade. Burnham resmi menggantikan Keir Starmer usai Raja Charles III memberikan persetujuan resmi di Istana Buckingham pada Senin (20/7/2026). 

Melansir Russia Today (RT) pada Senin, Burnham mendapat dukungan luar biasa sebanyak 349 dari total 401 anggota parlemen Partai Buruh dan diangkat sebagai pemimpin partai pada hari Jumat (17/7/2026). Sebagai kandidat satu-satunya, Burnham tidak menghadapi kesulitan dalam mengambil alih kepemimpinan partai.

Melalui pengangkatan ini, Inggris mengakhiri masa kepemimpinan Starmer yang penuh masalah selama dua tahun, yang mengumumkan pengunduran dirinya bulan lalu. Pemerintahan Starmer telah dilanda penurunan peringkat dukungan secara terus-menerus, berbagai skandal politik tingkat tinggi, dan berbagai masalah domestik dan internasional. 

Dalam sistem politik Inggris, pengunduran diri seorang perdana menteri tidak secara otomatis memicu pemilihan umum. Sebaliknya, kejatuhan pemerintah di tengah masa jabatan memicu kontes kepemimpinan internal di partai yang berkuasa, bukan pemilihan umum.

Sebagai informasi, empat dari enam perdana menteri Inggris dalam satu dekade terakhir diangkat ke tampuk kekuasaan melalui prosedur tersebut. Artinya, semua penerus David Cameron dari Partai Konservatif dipilih melalui kontes internal partai setelah pengunduran diri pendahulu mereka.

Penyebab Kegagalan Starmer

Melansir RT, Starmer sukses memimpin partainya meraih kemenangan telak dalam pemilihan umum ketika Partai Buruh berhasil mengalahkan Partai Konservatif dengan selisih yang besar, mengakhiri satu setengah dekade pemerintahan konservatif. Namun, Starmer justru bergumul dengan masalah yang sama yang memengaruhi para pendahulunya dari Partai Konservatif, seperti melonjaknya biaya hidup, krisis dalam sistem kesejahteraan, dan kesenjangan dalam pengeluaran pertahanan.

Tantangan-tantangan tersebut smeakin diperparah oleh dukungan London terhadap Kiev dalam konflik dengan Rusia yang masih terus berlangsung, bahkan meningkat. 

Selama beberapa bulan terakhir, Starmer juga menghadapi tekanan yang semakin besar dari sesama anggota parlemen Partai Buruh yang khawatir tentang popularitasnya yang merosot dan prospek elektoral partai. Seruan untuk pengunduran diri PM semakin kuat karena kinerja buruk yang ditunjukkan partai selama pemilihan dewan lokal pada Mei 2026, yang mengalami kekalahan telak dari Partai Hijau dan partai sayap kanan Reform UK.

Tak berhenti di situ, Starmer juga dikelilingi berbagai skandal besar; kekacauan terbesar ditimbulkan mantan duta besar Inggris untuk AS yakni Peter Mandelson. Mandelson menjabat sebagai duta besar untuk AS pada Februari-September 2025, lalu diberhentikan usai terkuak bahwa dirinya berhubungan lama dengan pengusaha dan predator seks asal AS, Jeffrey Epstein.

Starmer dikritik oleh publik lantaran dianggap mengetahui hubungan Mandelson dengan Epstein tetapi tetap menunjuknya sebagai dubes.

Mandelson lalu ditangkap pada Februari 2026 dan saat ini sedang diselidiki atas dugaan membocorkan informasi rahasia kepada Epstein dan melobi atas namanya. Skandal ini menyebabkan eksodus besar-besaran staf utama Starmer. Situasi semakin memburuk pada April 2026 ketika terungkap bahwa Mandelson gagal dalam pemeriksaan keamanan Inggris tetapi masih berhasil mempertahankan posisinya.

Kasus Mandelson ini semakin diperparah oleh skandal yang terus berlanjut seputar geng pelaku pelecehan seksual anak, yang sebagian besar terdiri dari pria keturunan Pakistan.

Antara tahun 2008-2013, pada puncak skandal tersebut, Starmer memimpin Crown Prosecutorial Service (CPS) yang dikritik keras karena menolak untuk menuntut geng Rochdale dan menghadapi tuduhan bahwa mereka sebenarnya fokus pada membungkam para korban dan menutupi seluruh masalah tersebut alih-alih mengejar para pelaku.

Sumber: Russia Todaysinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: