Harga BBM Melonjak, Trump Mengaku Tak Pertimbangkan Beban Warga AS

Oleh: Tim Redaksi
Rabu, 13 Mei 2026 | 11:31 WIB
Presiden AS Donald Trump. (Foto/Dokumentasi White House)
Presiden AS Donald Trump. (Foto/Dokumentasi White House)

BeritaNasional.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa dirinya tidak mempertimbangkan dampak ekonomi terhadap warga Amerika saat menegosiasikan kesepakatan dengan Iran terkait isu nuklir.

Pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan di halaman selatan Gedung Putih sebelum bertolak untuk kunjungan diplomatik ke China, Selasa (12/5/2026) waktu setempat. Saat ditanya sejauh mana kondisi keuangan warga Amerika memotivasinya untuk mencapai kesepakatan dengan Iran, Trump menjawab tegas.

“Sama sekali tidak,” jawab Trump. “Satu-satunya hal yang penting ketika saya berbicara tentang Iran mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir. Saya tidak memikirkan situasi keuangan warga Amerika. Saya tidak memikirkan siapa pun. Saya hanya memikirkan satu hal kita tidak boleh membiarkan Iran memiliki senjata nuklir. Itu saja," ujar Trump dikutip dari NBC News, Rabu (13/5/2026).

“Hal terpenting termasuk apakah pasar saham kita, yang kebetulan sedang berada di titik tertinggi sepanjang masa tetapi termasuk apakah pasar saham kita naik atau turun sedikit, hal terpenting adalah Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Setiap warga Amerika memahaminya," tambahnya.

Ketegangan meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada akhir Februari lalu. Sebagai respons, Iran memblokir akses ke Selat Hormuz, jalur strategis yang biasanya dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia setiap hari.

Dampaknya, harga bahan bakar di Amerika Serikat melonjak tajam. Berdasarkan data AAA, harga rata-rata nasional bensin tanpa timbal reguler mencapai 4,50 dolar AS per galon atau sekitar Rp74 ribu per galon, sementara harga diesel mencapai 5,64 dolar AS per galon atau sekitar Rp93 ribu per galon, dengan asumsi kurs Rp16.500 per dolar AS.

Kenaikan harga energi turut memicu lonjakan inflasi di Amerika Serikat. Data Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan inflasi April mencapai 3,8 persen, level tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir.

Lembaga tersebut menyatakan peningkatan biaya energi “menyumbang lebih dari empat puluh persen dari kenaikan harga semua barang bulanan.”

Partai Demokrat pun langsung merespons pernyataan Trump. Juru bicara Partai Demokrat Michigan, Leah Leszczynski, menilai Trump tidak menunjukkan empati terhadap kondisi ekonomi masyarakat.

Ia mengatakan bahwa saat warga Amerika kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, Trump “mengungkapkan hal yang seharusnya dirahasiakan dan itu sama saja dengan 'biarkan mereka makan kue.'”

Meski demikian, laporan ketenagakerjaan April menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja melampaui ekspektasi. Indeks saham Amerika Serikat juga tercatat mencapai rekor tertinggi selama konflik berlangsung.

Namun, mayoritas warga Amerika dilaporkan masih tidak puas terhadap kondisi ekonomi di bawah pemerintahan Trump. Survei CNN/SSRS yang dilakukan pada 30 April hingga 4 Mei menunjukkan 70 persen warga Amerika tidak menyetujui penanganan ekonomi oleh Trump.

Angka tersebut menjadi tingkat ketidakpuasan tertinggi yang pernah dicatat lembaga survei itu sepanjang dua periode pemerintahan Trump.

Sumber: NBC Newssinpo

Editor: Harits Tryan
Komentar: