Dampak Rupiah Tembus Rp17.600 per Dolar AS di Kehidupan Sehari-hari

Oleh: Kiswondari
Senin, 18 Mei 2026 | 07:01 WIB
Nilai rupiah melemah terhadap dolar AS. (Foto/Pixabay)
Nilai rupiah melemah terhadap dolar AS. (Foto/Pixabay)

BeritaNasional.com - Di tengah krisis global, mata uang rupiah mengalami pelemahan yang cukup signifikan bahkan menembus Rp17.600 per dolar AS. Meskipun dolar AS tidak digunakan untuk alat beli masyarakat, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar ternyata sangat berdampak bagi kehidupan sehari-hari baik di kota maupun di desa. Apalagi, sebagian besar industri domestik masih bergantung pada bahan baku impor.

Dampak Rupiah Melemah

Berikut adalah lima dampak nyata pelemahan rupiah dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, yang dirangkum BeritaNasional dari berbagai sumber:

1. Kenaikan Harga Bahan Pokok dan Makanan Kemasan
Meskipun sejumlah bahan pokok diproduksi di dalam negeri, banyak komoditas pangan yang bahan bakunya bersumber dari luar negeri atau impor. Dengan rupiah yang melemah, maka biaya impor ikut membengkak dan akan dibebankan kepada konsumen. Apalagi, makanan kemasan memerlukan plastik yang bahan bakunya berasal dari impor.

Dengan demikian, sejumlah bahan pokok yang mengalami kenaikan harga antara lain, minyak goreng, tahu/tempe (kedelai impor), mi instan, serta makanan dan minuman kemasan lainnya yang berpotensi mengalami kenaikan harga.

Namun, untuk menghindari kenaikan harga bahan pokok, biasanya akan diterapkan "shrinkflation", di mana produsen cenderung mengecilkan ukuran atau mengurangi isi produk guna menyiasati biaya produksi yang melambung.

2. Harga Barang Elektronik dan Otomotif Akan Melonjak
Sektor teknologi dan otomotif merupakan industri yang paling sensitif terhadap fluktuasi dolar AS, karena komponen utamanya hampir seluruhnya dipasok dari luar negeri. Dengan demikian, harga barang elektronik dan otomotif akan melonjak mengikuti kurs terbaru.

Dengan demikian, harga smartphone, laptop, dan komponen komputer rakitan akan langsung menyesuaikan dengan kurs terbaru. Bergitu juga dengan harga jual mobil dan sepeda motor baru, termasuk biaya suku cadang (sparepart) asli, berisiko mengalami penyesuaian harga dalam beberapa bulan ke depan. 

3. Harga BBM Nonsubsidi
Pelemahan rupiah yang berbarengan dengan ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga memicu kekhawatiran terhadap beban APBN. Sejumlah ekonom memproyeksikan bahwa pemerintah atau badan usaha akan melakukan penyesuaian pada sektor energi.  

Terbukti bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi seperti, Pertamax series atau Dex series sudah melonjak drastis, dan berpotensi kembali naik karena biaya pembelian minyak mentah menggunakan kurs dolar AS. 

4. Risiko Efisiensi Perusahaan dan Ancaman PHK
Dampak berikutnya adalah efisiensi perusahaan dan besarnya ancaman PHK (pemutusan hubungan kerja). Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Bob Azam dalam sebuah stasiun tv swasta sendiri mengingatkan bahwa jika tren pelemahan rupiah ini berlangsung dalam jangka panjang, profitabilitas industri akan tergerus tajam.

Hal ini menyebabkan perusahaan manufaktur yang margin keuntungannya menipis akibat biaya impor bahan baku tinggi terpaksa melakukan efisiensi ketat. Dan jika situasi tidak membaik, opsi pengurangan karyawan atau pemutusan hubungan kerja (PHK) menjadi risiko riil yang mengintai pekerja, khususnya di sektor kelas menengah.

5. Biaya Pendidikan dan Wisata ke Luar Negeri
Terakhir adalah biaya pendidikan dan wisata ke luar negeri yang ikut membengkak. Masyarakat yang memiliki kebutuhan bertransaksi dengan mata uang asing akan merasakan dampak penurunan daya beli secara instan.

Pelemahan rupiah ini menyebabkan harga tiket pesawat internasional, biaya akomodasi di luar negeri, hingga paket perjalanan ibadah seperti Umrah dan Haji Plus akan otomatis menjadi lebih mahal.

Kemudian, orang tua yang membiayai anak-anaknya kuliah di luar negeri juga harus merogoh kocek lebih dalam untuk memenuhi kebutuhan uang saku dan biaya semesteran.

Hal yang Perlu Dilakukan Masyarakat

Untuk menyiasati kondisi ini, masyarakat diimbau untuk lebih selektif dalam pengeluaran, menunda pembelian barang impor yang bersifat tersier, dan mengutamakan konsumsi produk lokal untuk membantu menekan laju permintaan valas di tingkat ritel.

Senantiasa bijak dalam membelanjakan uang dan berinvestasi, agar situasi pelemahan rupiah ini tidak memperburuk kondisi perekonomian rumah tangga. 

Demikian informasi tentang dampak rupiah yang tembus Rp17.600 per dolar AS di kehidupan sehari-hari. Semoga kondisi ekonomi ini dapat berangsur pulih dan rupiah menguat kembali. sinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: