Urgensi Diplomasi Sang Presiden
BeritaNasional.com - Sebagian orang hari ini sibuk menghitung berapa kali Presiden Prabowo Subianto naik pesawat ke luar negeri. Ada yang membandingkan dengan era Joko Widodo, ada juga yang membandingkan dengan era Susilo Bambang Yudhoyono. Sayangnya, banyak yang membandingkan angka tanpa memahami konteks dunia yang sedang dihadapi Indonesia hari ini.
Dunia sedang berada dalam fase paling rumit dalam beberapa dekade terakhir. Perang belum selesai, ketegangan energi meningkat, konflik dagang antar negara besar makin brutal, Timur Tengah memanas, Laut Merah terganggu, Selat Hormuz terus menjadi ancaman global, sementara perebutan pengaruh ekonomi dan pertahanan berlangsung sangat agresif.
Dalam situasi seperti ini, kepala negara yang hanya duduk diam di dalam negeri justru berbahaya bagi masa depan bangsanya.
Indonesia adalah negara besar. Penduduk besar, ekonomi besar, sumber daya besar, dan posisi geopolitiknya sangat strategis. Negara sebesar Indonesia tidak cukup dipimpin hanya dari meja rapat domestik.
Presiden harus hadir langsung di forum-forum dunia, bertemu pemimpin negara besar, membangun chemistry, menjaga hubungan personal, dan memastikan Indonesia ikut menentukan arah percakapan global. Inilah yang hari ini sedang dilakukan Presiden Prabowo. Jadi kalau ada yang menyebut “keluyuran”, saya kira itu lahir dari cara berpikir yang terlalu pendek dalam memahami hubungan internasional modern.
Dalam banyak kesempatan saya menghadiri forum ilmuwan, diplomat, pengamat hubungan internasional, hingga komunitas strategis lintas negara. Saya memahami betul bahwa diplomasi modern tidak lagi cukup dijalankan level menteri semata.
Dunia sedang masuk fase leader diplomacy. Keputusan penting dunia sekarang banyak lahir dari kedekatan langsung antar kepala negara. Relasi personal antar pemimpin bisa menentukan investasi, pertahanan, transfer teknologi, keamanan energi, sampai perlindungan warga negara di tengah konflik global. Jadi yang harus dilihat adalah apa yang dibawa pulang untuk kepentingan nasional.
Kunjungan Presiden Prabowo ke Prancis misalnya. Banyak orang melihatnya sekadar perjalanan luar negeri biasa. Padahal ini sangat strategis. Prancis adalah anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan pemegang hak veto.
Dalam geopolitik global yang sedang berguncang, hubungan Indonesia dengan negara seperti Perancis sangat penting. Apalagi hari ini hubungan Eropa dengan Amerika Serikat juga sedang mengalami banyak dinamika. Indonesia harus cerdas membaca perubahan arah kekuatan global. Politik luar negeri bebas aktif mengajarkan Indonesia berteman dengan semua negara demi kepentingan nasional, tanpa tunduk kepada siapa pun.
Kunjungan Presiden Emmanuel Macron ke Jakarta sebelumnya juga menghasilkan banyak kesepakatan strategis yang luar biasa. Kerja sama pertahanan diperkuat, hubungan ekonomi diperluas, pembahasan mineral kritis berjalan, transisi energi dibahas serius, kerja sama kebudayaan diperkuat, sampai penguatan Indo-Pacific partnership.
Bahkan tercatat puluhan nota kesepahaman dan komitmen investasi bernilai miliaran dolar lahir dari hubungan Indonesia-Prancis. Jadi hubungan ini membuahkan hasil konkret yang langsung menyentuh masa depan Indonesia.
Kita juga melihat bagaimana hubungan baik antar negara sangat membantu Indonesia dalam berbagai situasi sensitif internasional, termasuk saat ada WNI yang mengalami persoalan di kawasan konflik Israel beberapa waktu lalu.
Diplomasi itu bekerja senyap. Diplomasi tidak selalu tampil di depan kamera. Banyak orang sumbu pendek gagal memahami bahwa hubungan internasional sering bergerak lewat komunikasi tertutup, jaringan kepercayaan, dan relasi antarnegara yang sudah dibangun lama. Karena itu saya selalu mengatakan, jangan pernah meremehkan pentingnya hubungan baik dengan negara-negara besar dunia.
Menariknya, di tengah agenda kenegaraan yang sangat padat, Presiden Prabowo juga menyempatkan melaksanakan sholat Idul Adha bersama diaspora Indonesia di Paris. Ini adalah pesan kehormatan negara kepada rakyatnya di rantau. Diaspora Indonesia harus merasakan bahwa negaranya hadir.
Presiden hadir di tengah mereka. Negara tidak melupakan warga negaranya walaupun berada ribuan kilometer dari tanah air. Bagi orang Indonesia di luar negeri, momen seperti itu punya makna emosional yang besar. Mereka merasa dihargai sebagai bagian dari bangsa Indonesia.
Karena itu saya melihat kritik yang terlalu dangkal terhadap kunjungan luar negeri Presiden Prabowo justru menunjukkan rendahnya pemahaman sebagian orang terhadap geopolitik modern. Dunia sedang berubah sangat cepat. Indonesia tidak boleh kehilangan momentum. Presiden harus aktif bergerak, aktif membangun relasi, aktif membuka jalur kerja sama, dan aktif menjaga posisi Indonesia di tengah perebutan pengaruh global yang makin keras.
Nasionalisme hari ini tidak cukup hanya berdiri di podium sambil berteriak cinta tanah air. Nasionalisme modern adalah memastikan Indonesia dihormati di meja dunia.
Nasionalisme modern adalah memastikan pasokan energi aman, investasi masuk, teknologi datang, pertahanan kuat, perdagangan terbuka, dan warga negara terlindungi. Semua itu membutuhkan diplomasi tingkat tinggi. Semua itu membutuhkan hubungan internasional yang kuat.
Dan untuk negara sebesar Indonesia, itu adalah keharusan.
Oleh: Prof Ali Mochtar Ngabalin M Si
Ketua DPP Partai Golkar Bidang Kebijakan Politik Luar Negeri dan Hubungan Internasional.
Guru Besar Hubungan Internasional, Busan University of Foreign Studies (BUFS) Korea Selatan.
Visiting Professor Hubungan Internasional Tomsk State University (TSU) Siberia Rusia

GAYA HIDUP | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
PERISTIWA | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu







