Qatar Bantah Isu Tawaran Dana ke Iran, Sebut Ada Upaya Sabotase Diplomasi Timur Tengah

Oleh: Tim Redaksi
Selasa, 26 Mei 2026 | 10:11 WIB
Presiden Iran Masoud Pezeshkian. (Foto/X@drpezeshkian)
Presiden Iran Masoud Pezeshkian. (Foto/X@drpezeshkian)

BeritaNasional.com - Pemerintah Qatar membantah laporan yang menyebut Iran ditawari imbalan finansial demi mencapai kesepakatan penghentian konflik di kawasan.

Doha menilai isu tersebut sengaja disebarkan untuk mengganggu proses diplomasi yang sedang berlangsung.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, menegaskan rumor mengenai “pembayaran” kepada Iran merupakan bagian dari upaya pihak tertentu untuk menggagalkan negosiasi dan memperkeruh situasi regional.

Dalam pernyataannya di platform X, al-Ansari mengatakan peran diplomatik Qatar selama ini dilakukan secara terbuka bersama sejumlah negara mitra guna mendorong de-eskalasi di Timur Tengah.

“Peran diplomatik Qatar, yang dilakukan secara koordinasi dengan mitra regional, sudah mapan dan terdokumentasi secara publik,” kata al-Ansari dalam sebuah unggahan di platform X, Selasa (26/5/2026).

Di tengah upaya diplomasi itu, situasi kawasan masih memanas. Amerika Serikat dilaporkan melancarkan serangan ke wilayah Bandar Abbas di Iran selatan.

Washington mengklaim operasi tersebut dilakukan sebagai bentuk perlindungan terhadap pasukan AS setelah adanya dugaan aktivitas militer Iran di sekitar Selat Hormuz.

Mantan diplomat dan pejabat Pentagon, Adam Clements, menilai serangan tersebut kemungkinan berkaitan dengan pengumpulan intelijen maritim AS di jalur strategis Hormuz.

Meski begitu, ia menilai insiden tersebut belum cukup besar untuk menggagalkan peluang tercapainya kesepakatan damai.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump disebut masih membuka peluang negosiasi dengan Teheran, meskipun pembicaraan dilaporkan belum mencapai titik final. Sejumlah sumber menyebut draft kesepakatan telah hampir rampung, namun masih ada beberapa poin krusial yang belum disetujui kedua pihak.

Ketegangan juga terus meningkat di Lebanon dan Gaza. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan serangan terhadap Hizbullah akan diperkuat, meski sebelumnya telah ada perpanjangan gencatan senjata dengan Lebanon.

Di Gaza selatan, kerusakan parah terlihat di wilayah Rafah setelah operasi militer Israel yang berlangsung selama berbulan-bulan. Banyak kawasan permukiman dilaporkan hancur dan sulit dihuni kembali oleh warga Palestina.

Selain itu, Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengkritik tindakan Israel terhadap aktivis flotilla bantuan menuju Gaza. Ia menyebut perlakuan terhadap warga sipil dalam insiden tersebut “tidak dapat diterima” dan menyerukan de-eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Harga minyak dunia juga ikut bergejolak akibat perkembangan terbaru di Selat Hormuz. Harga minyak mentah AS sempat turun lebih dari 6 persen setelah muncul laporan mengenai kemungkinan pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut melalui pembicaraan AS dan Iran.sinpo

Editor: Imantoko Kurniadi
Komentar: