Strategi Investasi yang Wajib Diketahui

Oleh: Sri Utami Setia Ningrum
Jumat, 05 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ilustrasi investasi naik (Foto/Pixabay)
Ilustrasi investasi naik (Foto/Pixabay)

BeritaNasional.com -  Dalam berinvestasi kita tentu harus menyiapkan segala seuatunya termasuk jenis investasi apa yang akan kita pilih. Namun tidak hanya itu, memiliki strategi investasi yang jelas sangat berpengaruh terhadap hasil yang akan didapaatkan. Apabila tidak memiliki perencanaan matang, aktivitas investasi bisa berubah menjadi spekulasi yang berisiko tinggi.

Mengambil keputusan yang tidak tepat bisa berdampak pada kerugian yang tidak sedikit.

Oleh sebab itu strategi investasi dibutuhkan untuk membantu investor menjalankan langkah yang lebih terarah. Melalui strategi yang tepat, risiko di pasar dapat ditekan sehingga pergerakan investasi menjadi lebih terkendali.

Strategi juga berperan dalam memaksimalkan potensi keuntungan karena setiap keputusan didasarkan pada pertimbangan yang matang, bukan sekadar mengikuti tren.

Investasu butuh konsistensi dan kesabaran agar hasilnya bisa terlihat dalam jangka panjang.

Melansir laman Pegadaian, dengan strategi yang jelas investor cenderung lebih disiplin dalam menjalankan rencana dan tidak mudah terpengaruh oleh fluktuasi pasar yang bersifat sementara.


Macam-macam Strategi Investasi

1.Value Cost Averaging (VCA)

Value cost averaging (VCA) adalah strategi investasi yang menyesuaikan jumlah dana berdasarkan kondisi pasar. Investor perlu rutin memantau harga aset agar bisa menentukan kapan menambah atau menahan investasi.

Saat harga turun, pembelian biasanya ditingkatkan untuk memanfaatkan harga yang lebih rendah. Sebaliknya, ketika harga naik dan nilai investasi sudah meningkat, pembelian bisa dikurangi atau dihentikan sementara.

Strategi ini membuat investasi lebih fleksibel karena tidak menggunakan nominal tetap. Karena itu, VCA cocok untuk investor aktif yang rutin mengikuti pergerakan pasar, terutama pada saham dan reksa dana.

 

2. Dollar Cost Averaging (DCA)

Dollar cost averaging (DCA) adalah strategi investasi dengan menyetor dana secara rutin dalam jumlah yang sama pada periode tertentu untuk membeli instrumen investasi, seperti saham, reksa dana, atau emas, tanpa memperhatikan kondisi pasar.

Strategi ini membantu mengurangi dampak fluktuasi harga karena pembelian dilakukan bertahap sehingga harga rata-rata lebih stabil. Saat harga turun, kamu bisa memperoleh lebih banyak unit sehingga risiko beli di harga tinggi bisa ditekan.

Selain itu, DCA membuat investasi terasa lebih ringan karena tidak dilakukan sekaligus dalam jumlah besar. Strategi ini cocok untuk jangka panjang dan membantu investor lebih disiplin serta tidak mudah mengambil keputusan impulsif.

 

3. Averaging Up

Averaging up adalah strategi yang umum digunakan dalam investasi saham, di mana investor menambah jumlah kepemilikan saat harga saham yang dimiliki terus naik.

Tujuannya adalah memaksimalkan potensi keuntungan dengan mengikuti tren kenaikan harga, bukan membeli saat harga turun.

Dalam praktiknya, pembelian dilakukan bertahap seiring kenaikan harga. Misalnya, kamu memiliki saham TLKM sebanyak 80 lot di harga Rp3.200.

Beberapa hari kemudian, harganya naik menjadi Rp3.400 per lot, lalu kamu menambah 20 lot. Selang beberapa waktu, harga kembali naik hingga Rp3.800.

Di titik tersebut, kamu bisa menjual seluruh saham yang dimiliki untuk mendapatkan keuntungan optimal. Strategi ini biasanya digunakan oleh investor yang yakin tren kenaikan masih berlanjut dan ingin memanfaatkan momentum tersebut secara maksimal.

 

4. Averaging Down

Average down adalah strategi investasi dengan menambah pembelian saat harga aset sedang turun. Strategi ini umum digunakan pada saham di Bursa Efek Indonesia, namun juga bisa diterapkan pada instrumen lain seperti reksa dana.

Tujuannya adalah menurunkan harga rata-rata pembelian sehingga investor bisa mendapatkan lebih banyak unit dengan harga yang lebih rendah.

Saat harga kembali naik, potensi keuntungan menjadi lebih besar karena posisi beli berada di level yang lebih murah.

Meski terlihat menguntungkan, strategi ini tetap membutuhkan pemantauan pasar yang cukup rutin. Investor perlu memastikan bahwa penurunan harga masih wajar dan bukan tren penurunan jangka panjang.
 

5. Buy On Weakness, Sell On Strength

Strategi ini umumnya digunakan untuk jangka pendek dengan tujuan mendapatkan capital gain dari pergerakan harga. Investor atau trader membeli saham saat harga turun, lalu menjualnya ketika harga naik sesuai target.

Agar risiko tetap terkontrol, strategi ini biasanya dilengkapi dengan batas kerugian atau cut loss. Jika harga tidak bergerak sesuai harapan, saham akan dijual untuk mencegah kerugian yang lebih besar.

 

6. Lump Sum

Strategi lump sum adalah cara investasi dengan menempatkan dana besar sekaligus dalam satu waktu, biasanya saat harga aset sedang rendah. Tujuannya untuk mendapatkan keuntungan maksimal ketika harga naik.

Strategi ini sering digunakan oleh investor yang memiliki modal besar dan tidak ingin melakukan investasi secara bertahap.

Instrumen seperti saham dan reksa dana cukup umum menggunakan strategi ini karena peluang return bisa langsung terasa jika timing pembelian tepat.

Namun, risikonya juga cukup tinggi. Jika setelah pembelian harga justru turun, maka nilai investasi akan ikut menurun secara keseluruhan karena dana sudah masuk sekaligus di satu harga.

 

7. Dividen Hunter

Dividen hunter adalah strategi investasi saham yang berfokus pada pembelian saham yang rutin membagikan dividen, biasanya pada periode tertentu seperti akhir tahun. Tujuannya adalah mendapatkan pendapatan pasif dari dividen.

Dividen yang diterima biasanya diinvestasikan kembali untuk membeli saham yang sama atau saham lain. Ini akan membantu kamu menambah jumlah kepemilikan aset dari waktu ke waktu.

Dengan kata lain, strategi ini cocok untuk investor yang menginginkan pendapatan tambahan dengan risiko yang relatif lebih stabil karena tidak hanya bergantung pada kenaikan harga saham.

 sinpo

Editor: Sri Utami Setia Ningrum
Komentar: