Jangan Abaikan USG Kehamilan, Kelainan Ginjal Janin Bisa Diketahui Lebih Awal

Oleh: Tim Redaksi
Jumat, 05 Juni 2026 | 00:09 WIB
Ilustrasi bayi menangis (BeritaNasional/Freepik)
Ilustrasi bayi menangis (BeritaNasional/Freepik)

BeritaNasional.com - Gangguan ginjal pada anak kerap dianggap baru bisa diketahui setelah bayi lahir. Padahal, sejumlah kelainan pada saluran kemih dan ginjal bawaan sebenarnya sudah dapat terdeteksi sejak dalam kandungan melalui pemeriksaan kehamilan rutin.

Deteksi dini ini penting karena keterlambatan penanganan dapat berujung pada kerusakan ginjal permanen yang berdampak pada tumbuh kembang anak hingga dewasa.

Dokter Spesialis Bedah Anak Konsultan Urologi Anak di Primaya Evasari Hospital dan Primaya Hospital PGI Cikini, dr. Ronald Sorongku menjelaskan bahwa kemajuan teknologi pencitraan membuat berbagai kelainan urologi kongenital kini bisa diketahui lebih awal, bahkan saat janin masih dalam kandungan.

“Banyak kelainan saluran kemih dan ginjal pada anak sebenarnya sudah bisa diketahui sejak masa kehamilan melalui pemeriksaan khusus USG fetomaternal. Semakin dini kondisi ini terdeteksi, semakin besar peluang untuk mencegah kerusakan ginjal permanen dan mempertahankan fungsi ginjal anak dalam jangka panjang,” jelas dr. Ronald, seperti dikutip dalam keterangannya, Kamis (4/6/2026).

Salah satu kelainan yang paling sering ditemukan adalah hidronefrosis kongenital, yaitu pelebaran ginjal akibat gangguan aliran urine. Kondisi ini umumnya pertama kali terdeteksi melalui USG kehamilan.

Meski demikian, dr. Ronald menegaskan tidak semua kasus hidronefrosis langsung membutuhkan tindakan operasi. “Banyak orang tua langsung panik ketika mendengar adanya pelebaran ginjal pada janin. Padahal tidak semua kasus harus dioperasi. Penting untuk melakukan pemantauan yang tepat, evaluasi fungsi ginjal secara berkala, dan menentukan waktu intervensi yang sesuai bila memang diperlukan,” ungkapnya.

Setelah bayi lahir, pemeriksaan lanjutan dilakukan melalui USG traktus urinarius, renogram atau skintigrafi ginjal, serta berbagai pemeriksaan radiologi sesuai kebutuhan. Pemeriksaan ini bertujuan menilai fungsi ginjal, risiko kerusakan, serta menentukan langkah penanganan selanjutnya.

Menurut dr. Ronald, penanganan kelainan urologi anak idealnya dilakukan secara terpadu dengan melibatkan berbagai disiplin, mulai dari dokter fetomaternal, obstetri dan ginekologi, neonatologi, radiologi, urologi anak, bedah anak, hingga rehabilitasi medik.

Pendekatan multidisiplin ini memungkinkan perencanaan penanganan sejak masa kehamilan hingga pemantauan tumbuh kembang anak setelah lahir.

“Ketika kelainan sudah diketahui sejak dalam kandungan, orang tua memiliki waktu untuk memahami kondisi anaknya, memilih fasilitas kesehatan yang tepat, serta mempersiapkan langkah penanganan sejak awal. Ini akan memberikan hasil yang jauh lebih baik dibandingkan jika diagnosis baru diketahui setelah muncul komplikasi,” ujarnya.

Selain menentukan strategi persalinan, deteksi prenatal juga membantu dokter memantau perkembangan ginjal, kandung kemih, serta kondisi cairan ketuban yang menjadi indikator penting kesehatan janin.

Di tengah meningkatnya kesadaran akan kesehatan anak sejak dini, dr. Ronald menekankan bahwa pemeriksaan kehamilan rutin bukan hanya untuk memantau pertumbuhan janin, tetapi juga menjadi momen penting untuk mendeteksi kelainan bawaan yang berpengaruh pada kualitas hidup anak di masa depan.

“Tujuan utama kami bukan sekadar melakukan operasi. Yang paling penting adalah menjaga fungsi ginjal anak tetap optimal sepanjang hidupnya. Dengan deteksi dini, monitoring yang tepat, dan kolaborasi multidisiplin, banyak anak dapat tumbuh sehat dan terhindar dari komplikasi serius di kemudian hari,” tutup dr. Ronald.sinpo

Editor: Imantoko Kurniadi
Komentar: