Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Istana Pastikan Fundamental Ekonomi Tetap Kuat

Oleh: Lydia Fransisca
Kamis, 04 Juni 2026 | 21:10 WIB
BI jaga rupiah tetap stabil (Foto/Pixabay)
BI jaga rupiah tetap stabil (Foto/Pixabay)

BeritaNasional.com - Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi buka suara soal anjloknya nilai tukar rupiah yang telah mencapai Rp18.000 per dolar AS.

Pras mengatakan pemerintah terus berkoordinasi dan berupaya keras agar rupiah kembali menguat.

"Berkenaan dengan masalah rupiah, kami pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan, kemudian Bank Indonesia, dan juga Otoritas Jasa Keuangan terus berkoordinasi secara intens untuk memantau perkembangan serta melakukan langkah-langkah yang diperlukan," kata Pras di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Meski demikian, Pras memastikan fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi kuat. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi nasional masih sesuai target dan tingkat inflasi tetap terkendali.

"Tapi yang bisa kami sampaikan adalah bahwa kami harus yakin sesungguhnya fundamental ekonomi yang tergambar dari pertumbuhan ekonomi, kemudian dari inflasi yang masih terjaga," ujar Pras.

"InsyaAllah sesungguhnya kita memiliki fundamental ekonomi yang cukup kuat," tegasnya.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi di pasar valuta asing dengan intensitas yang lebih tinggi di tengah pelemahan rupiah yang semakin dalam.

"BI terus hadir untuk meningkatkan intervensi di tengah pelemahan rupiah. Kami berusaha menjaga stabilitas nilai tukar rupiah," ujar Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti.

Saat ini, lanjut Destry, BI juga terus memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter yang pro-pasar. Langkah tersebut dilakukan agar aliran modal masuk ke instrumen aset domestik tetap terjaga.

"Intervensi yang berkesinambungan akan terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. Hal ini juga dilakukan dengan pembelian SBN di pasar sekunder," terangnya.sinpo

Editor: Imantoko Kurniadi
Komentar: