Tumbang oleh Ganda Putri Nomor 1 Dunia, Rachel/Febi Dapat Pelajaran Berharga

Oleh: Tarmizi Hamdi
Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:28 WIB
Tumbang oleh Ganda Putri Nomor 1 Dunia, Rachel/Febi Dapat Pelajaran Berharga. (BeritaNasional/Ajeng)
Tumbang oleh Ganda Putri Nomor 1 Dunia, Rachel/Febi Dapat Pelajaran Berharga. (BeritaNasional/Ajeng)

BeritaNasional.com - Langkah ganda putri Indonesia, Rachel Allesya Rose/Febi Setianingrum harus terhenti di babak semifinal. 

Tiket menuju partai puncak terpaksa direlekan setelah mereka ditumbangkan oleh pasangan nomor satu dunia asal China, Liu Sheng Shu/Tan Ning, dalam dua game langsung dengan skor 17-21, 16-21.

Pertandingan yang digelar pada Sabtu (6/6/2026) ini menjadi momen perdana kedua pasangan saling berhadapan di lapangan.

Sejak awal laga, Liu/Tan yang memegang status sebagai peraih medali perak Olimpiade Paris 2024 langsung mengambil kendali permainan. Gempuran serangan tajam yang menjadi ciri khas mereka berulang kali merepotkan pertahanan Rachel/Febi.

Meski kehilangan game pertama, Rachel/Febi tidak tinggal diam. Memasuki game kedua, mereka mencoba bangkit dan meredam agresivitas lawan.

Lewat pertahanan yang solid, pasangan Indonesia ini bahkan rela jatuh bangun demi mengembalikan bola-bola sulit. 

Strategi ini sempat membuahkan hasil saat mereka memimpin unggul 7-3. Sayangnya, momentum positif tersebut gagal dipertahankan hingga akhir laga.

“Kami beberapa kali salah pengertian di lapangan, di poin berikutnya pun sama. Komunikasinya lost di sini dan sudah dikoreksi sama pelatih,” kata Rachel usai pertandingan di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (6/6/2026).

“Dibilang puas ya harus puas dengan penampilan kami. Cuma tadi kami sudah unggul harusnya kami bisa ambil poin lebih banyak. Tapi masih banyak yang harus dipelajari,” tambahnya.

Menghadapi lawan sekelas Liu/Tan memberikan modal pengalaman yang sangat berharga bagi Rachel/Febi.

Mengingat lawan mereka adalah peraih gelar Juara Dunia 2025, dibutuhkan usaha ekstra keras karena serangan biasa terbukti belum mampu menembus rapatnya pertahanan duo China tersebut.

Febi pun mengakui bahwa tekanan dari lawan memberikan atmosfer pertandingan yang berbeda dan menjadi bahan evaluasi besar bagi mereka ke depan.

“Cukup banyak dapat pengalaman dari mereka juga. Mereka punya tekanan yang bikin kami kewalahan. Dari serangannya juga mereka sangat bagus. Pelajaran untuk kami, ketika buat kesalahan itu tidak usah terlalu dipikirkan terlalu lama dan harus cepat ngebalikin fokusnya lagi,” ucap Febi.

Meski gagal melaju ke final, pencapaian ini tetap menjadi catatan impresif bagi Rachel/Febi. Merosok hingga ke semifinal turnamen level Super 1000 merupakan prestasi luar biasa, terlebih mengingat keduanya baru dipasangkan sejak September tahun lalu. Dukungan penuh dari publik sendiri di Jakarta diakui menjadi bahan bakar utama perjuangan mereka.

“Ini kesempatan yang bagus, apalagi di rumah sendiri juga bisa. Menurut saya pribadi bukan hal yang mudah sampai sejauh ini. Tapi ada faktor karena dukungan dari penonton. Banyak pengalaman dan pelajaran yang bisa diambil dari pertandingan ini,” imbuh Rachel.

Usai turnamen ini, Rachel/Febi tidak ingin berlarut dalam kesedihan. Mereka langsung mengalihkan fokus untuk bersiap menghadapi ajang Australia Open 2026. Datang sebagai juara bertahan di turnamen level Super 500 tersebut, Rachel/Febi mengusung misi besar untuk mempertahankan gelar yang mereka raih tahun lalu.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: