Jadi Tuan Rumah Federation of Asian Bishop's Conferences, Ratusan Uskup Bakal ke Terowongan Silaturahmi

Oleh: Kiswondari
Kamis, 25 Juni 2026 | 18:03 WIB
Menag Nasaruddin Umar (tengah), Uskup Bandung dan Ketua KWI, Mgr. Antonius Subianto Bunyamin (kiri), dan Kardinal Ignatius Suharyo (kanan), Rabu (24/6/2026). (BeritaNasional/Kemenag)
Menag Nasaruddin Umar (tengah), Uskup Bandung dan Ketua KWI, Mgr. Antonius Subianto Bunyamin (kiri), dan Kardinal Ignatius Suharyo (kanan), Rabu (24/6/2026). (BeritaNasional/Kemenag)

BeritaNasional.com - Indonesia akan mengumpulkan para pemimpin Gereja Katolik se-Asia dalam ajang Federation of Asian Bishop's Conferences (FABC) 2026 di Jakarta pada 20-26 Juli mendatang. Salah satu agenda utama konferensi ini adalah kunjungan ratusan uskup dari berbagai negara ke Terowongan Silaturahmi dan Masjid Istiqlal sebagai simbol dialog dan persaudaraan lintas agama yang tumbuh di Indonesia.

dalam pertemuan Menteri Agama dengan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) terkait persiapan FABC 2026 pada Rabu (24/6/2026), Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan,Indonesia memiliki pengalaman berharga dalam membangun harmoni di tengah keberagaman agama, budaya, dan etnis. Pengalaman tersebut dinilai penting untuk dibagikan kepada dunia, termasuk kepada para peserta FABC 2026 yang akan digelar di Jakarta.

"Indonesia memiliki modal sosial yang sangat kuat dalam merawat kerukunan. Kehadiran para uskup dari berbagai negara Asia menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa perbedaan bukan penghalang, melainkan kekuatan untuk membangun perdamaian bersama," kata Menag, yang dikutip Kamis (25/6/2026).

Menurut Nasaruddin, Terowongan Silaturahmi dan Masjid Istiqlal bukan sekadar infrastruktur, tetapi representasi nilai-nilai kebangsaan Indonesia yang menempatkan dialog dan saling menghormati sebagai fondasi kehidupan beragama.

"Kita ingin para peserta tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan langsung bagaimana kerukunan hidup dalam keseharian masyarakat Indonesia," tuturnya.

Sementara itu, Uskup Bandung sekaligus Ketua KWI, Mgr. Antonius Subianto Bunyamin menjelaskan, pada rangkaian penutupan FABC, para delegasi akan mengunjungi Terowongan Silaturahmi dan Masjid Istiqlal. Dalam agenda tersebut, sekitar 110 uskup dari Asia, dan ada perwakilan dari benua-benua Amerika, Afrika, Oceania, dan Eropa. Dari Indonesia ada sekitar 50 uskup perwakilan, baik yang aktif maupun yang sudah emeritus. Para delegasi akan diterima langsung oleh Menteri Agama selaku Imam Besar Masjid Istiqlal.

"Tadi dikonfirmasi bahwa pada acara penutupan FABC akan ada kunjungan ke Terowongan Silaturahmi. Bapak Menteri Agama akan menerima para uskup dan delegasi di Masjid Istiqlal," katanya.

Acara FABC 2026 ini akan dipusatkan di Jakarta. Rangkaian kegiatan utamanya berupa konferensi para uskup Asia yang kemudian ditutup dengan perayaan Ekaristi di Gereja Katedral Jakarta sebelum para peserta berjalan menuju Istiqlal melalui Terowongan Silaturahmi.

Kemudian, Kardinal Ignatius Suharyo mengatakan, tema besar yang diusung dalam penutupan FABC berkaitan dengan pentingnya membangun dialog di tengah perbedaan.

"Kita akan melihat hal-hal besar melalui perjumpaan dengan agama dan budaya lain. Tuhan memperlihatkan kepada kita bahwa akan ada hal yang lebih besar ketika kita membangun jembatan-jembatan dialog. Makanya kunjungan ke Terowongan Istiqlal ini menjadi simbol untuk menunjukkan cita-cita bangsa Indonesia dalam hidup rukun dan harmoni di tengah perbedaan," kata Kardinal Suharyo.

Sebagai informasi, FABC merupakan forum para uskup Asia yang digelar setiap empat tahun sekali. Pertemuan tahun 2026 ini menjadi momentum bersejarah karena untuk pertama kalinya berlangsung di Jakarta dan kedua kalinya diselenggarakan di Indonesia setelah sebelumnya digelar di Lembang, Jawa Barat, pada 1990.

KWI menilai, terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah tidak lepas dari perhatian dunia terhadap praktik kerukunan beragama di Tanah Air, termasuk dampak positif kunjungan Paus Fransiskus yang meninggalkan kesan mendalam bagi komunitas internasional.

Melalui hajatan di lingkup Asia ini, Indonesia tidak hanya menjadi lokasi pertemuan para pemimpin Gereja Katolik Asia, tetapi menjadi ruang untuk memperkenalkan praktik dialog, toleransi, dan hidup berdampingan yang selama ini menjadi salah satu kekuatan bangsa.sinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: