Gencatan Senjata AS-Iran di Ujung Tanduk, Selat Hormuz Kembali Memanas Pascaserangan Udara
BeritaNasional.com - Kesepakatan damai yang baru seumur jagung antara Amerika Serikat dan Iran kini berada di ujung tanduk.
Ketegangan kembali eskalatif menyusul aksi saling balas di jalur laut vital, Selat Hormuz, yang menguji ketahanan memorandum gencatan senjata kedua negara.
Militer AS melancarkan serangan udara ke sejumlah situs militer Iran pada Jumat malam. Langkah konfrontatif ini diambil Washington sebagai respons langsung atas dugaan serangan drone Iran terhadap kapal dagang internasional pada Kamis (25/6/2026).
Insiden ini seketika mengguncang nota kesepahaman (MoU) penghentian perang yang baru saja diteken pada 18 Juni lalu.
Reaksi keras langsung datang dari Teheran. Ketua Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menuding Presiden AS Donald Trump sama sekali tidak memiliki komitmen terhadap poin-poin negosiasi maupun prinsip gencatan senjata.
"Pelanggaran gencatan senjata yang sembrono ini hanya akan membawa penyesalan dan kemunduran besar bagi pihak Amerika Serikat sendiri," tegas Azizi sebagaimana dilaporkan Al Jazeera pada Sabtu (27/6/2026).
Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance melayangkan peringatan yang tidak kalah sengit. Melalui platform X, Vance menegaskan Washington tidak akan tinggal diam jika aset komersial mereka diganggu. Ia mengonfirmasi AS sebelumnya menghormati komitmen damai tersebut.
"Iran sudah menandatangani kesepakatan ini. Jika ada perbedaan pandangan mengenai implementasi di lapangan, pintu komunikasi terbuka. Namun, kekerasan akan selalu kami balas dengan kekerasan," cetus Vance saat membagikan rilis resmi dari Komando Pusat (Centcom) AS.
Centcom menyatakan serangan udara tersebut merupakan jawaban tegas atas aksi provokasi satu hari sebelumnya.
Empat drone serang satu arah dilaporkan menyasar kapal kargo mahal di Selat Hormuz. Donald Trump melalui akun Truth Social miliknya mengeklaim satu drone berhasil menghantam dek atas kapal, sedangkan tiga lain berhasil ditembak jatuh. Meski mengalami kerusakan, kapal tersebut dilaporkan tetap mampu melanjutkan perjalanan.
Krisis ini kembali mengaburkan masa depan Selat Hormuz, jalur logistik global yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia sebelum perang pecah.
Padahal, berdasarkan kesepakatan 18 Juni, Iran telah setuju membuka kembali selat tersebut dan menggratiskan biaya pelintasan kapal komersial selama 60 hari demi memulihkan arus dagang dunia.
Situasi kian rumit karena sehari sebelum insiden, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran memperingatkan bahwa kapal-kapal asing hanya diizinkan melewati rute resmi yang ditentukan sepihak oleh Teheran. Di luar jalur tersebut, pergerakan kapal dilarang keras.
Melihat situasi yang kembali memanas, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mendesak kedua belah pihak menahan diri demi mengembalikan status quo.
Melalui juru bicaranya, Stephane Dujarric, PBB berharap Selat Hormuz dapat kembali berfungsi normal seperti sedia kala sebelum konflik pecah, demi menjaga stabilitas ekonomi global yang saat ini baru mulai merangkak naik.
Sumber: Xinhua News
EKBIS | 2 hari yang lalu
POLITIK | 2 hari yang lalu
POLITIK | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
HUKUM | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu







