Harga TBS Turun, APKASINDO Dorong Perbaikan Tata Kelola Sawit

Oleh: Tim Redaksi
Sabtu, 27 Juni 2026 | 12:54 WIB
APKASINDO Dorong Perbaikan Tata Kelola Sawit. (Foto/istimewa)
APKASINDO Dorong Perbaikan Tata Kelola Sawit. (Foto/istimewa)

BeritaNasional.com - Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) menyoroti dua persoalan serius yang saat ini membebani petani sawit rakyat, yakni merebaknya penyakit Ganoderma serta merosotnya harga tandan buah segar (TBS) yang di sejumlah daerah turun hingga menyentuh Rp1.200 per kilogram.

Isu tersebut menjadi fokus utama dalam Workshop Pemberdayaan Petani Sawit dalam Pengendalian Ganoderma dan Kumbang Tanduk untuk Keberlanjutan Perkebunan Sawit yang diselenggarakan di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur. Kegiatan yang mendapat dukungan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) itu dihadiri jajaran pengurus APKASINDO, petani sawit, pemerintah daerah, serta berbagai pemangku kepentingan sektor perkebunan.

Ketua Umum DPP APKASINDO, Gulat Medali Emas Manurung, menegaskan pentingnya soliditas seluruh organisasi petani sawit dalam menghadapi berbagai tantangan industri sawit nasional. Menurutnya, perbedaan organisasi tidak boleh menghambat perjuangan bersama dalam membela kepentingan petani.

Ia menjelaskan bahwa APKASINDO saat ini telah hadir di 24 provinsi dan 164 kabupaten/kota dengan jumlah anggota mencapai sekitar 2,4 juta petani. Karena itu, sinergi antara petani, pemerintah, dan pelaku industri menjadi faktor penting untuk menjaga produktivitas dan keberlanjutan sektor sawit nasional.

Dalam kesempatan tersebut, Gulat memberikan perhatian khusus terhadap ancaman penyakit Ganoderma yang mulai banyak ditemukan di sejumlah sentra perkebunan sawit. Penyakit ini dinilai sangat berbahaya karena menyerang akar dan batang tanaman tanpa gejala yang mudah dikenali.

Menurutnya, berbeda dengan serangan kumbang tanduk yang dapat terlihat secara langsung, Ganoderma berkembang secara perlahan hingga menyebabkan tanaman layu dan mati.

“Ganoderma merupakan ancaman serius bagi keberlanjutan kebun sawit rakyat karena sering terlambat terdeteksi. Karena itu petani harus memahami gejala awal dan langkah pencegahannya,” ujarnya.

Selain persoalan penyakit tanaman, APKASINDO juga menyoroti anjloknya harga TBS yang dinilai semakin menekan pendapatan petani. Organisasi tersebut menilai salah satu penyebab utama penurunan harga adalah tidak berjalannya tender harian minyak sawit mentah (CPO) di Kantor Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN).

Ketika tender mengalami gagal transaksi atau withdrawal secara berulang, pasar kehilangan acuan harga yang selama ini menjadi referensi dalam pembentukan harga TBS. Dampak terbesar dirasakan petani swadaya yang menguasai sekitar 93 persen dari total kebun sawit rakyat di Indonesia.

APKASINDO menilai kondisi tersebut memberikan ruang lebih besar bagi sejumlah pabrik kelapa sawit untuk menentukan harga pembelian TBS tanpa referensi yang transparan. Karena itu, pemerintah diminta segera mengaktifkan kembali Bursa CPO Indonesia dan memastikan mekanisme tender berjalan normal.

Organisasi petani sawit terbesar di Indonesia itu juga mendukung langkah pemerintah untuk menindak tegas pabrik kelapa sawit yang membeli TBS di bawah harga kewajaran. APKASINDO bahkan mendorong pembentukan satuan tugas khusus hingga pemberian sanksi tegas bagi perusahaan yang terbukti merugikan petani.

Di sisi lain, APKASINDO terus mendorong percepatan hilirisasi sawit melalui pemanfaatan minyak sawit berkadar asam tinggi sebagai bahan baku biodiesel maupun bahan bakar penerbangan guna meningkatkan serapan domestik dan nilai tambah industri sawit nasional.

Ketua DPW APKASINDO Kalimantan Timur, Betman Siahaan, mengungkapkan bahwa Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Paser menjadi wilayah yang cukup terdampak serangan Ganoderma dan kumbang tanduk.

Ia menyebut masih banyak petani yang belum memahami gejala awal Ganoderma sehingga penanganan sering terlambat dilakukan. Bahkan tidak sedikit petani yang mengira tanaman mati akibat faktor lain, padahal penyebabnya adalah infeksi jamur pada sistem perakaran.

Betman juga menyoroti penurunan harga TBS di Kalimantan Timur yang menurutnya termasuk paling tajam di Indonesia. Berdasarkan hasil pembahasan APKASINDO secara nasional, harga TBS yang sebelumnya berada di kisaran Rp3.000 per kilogram sempat merosot hingga Rp1.200 per kilogram.

Pada tingkat harga tersebut, sebagian besar pendapatan petani habis untuk biaya panen dan transportasi. Akibatnya, keuntungan yang diterima petani menjadi sangat tipis dan banyak yang memilih menunda panen karena dianggap tidak lagi menguntungkan secara ekonomi.

Kondisi ini turut berdampak pada pelaku usaha pengumpul sawit yang mengalami kerugian akibat penumpukan stok saat harga turun secara mendadak. APKASINDO Kalimantan Timur menduga sejumlah pabrik menerapkan pembatasan pembelian melalui sistem kuota meskipun harga CPO tidak mengalami penurunan yang signifikan.

Karena itu, APKASINDO mendorong penerapan satu harga TBS secara nasional serta percepatan pembentukan BUMN pengiriman CPO untuk menciptakan tata niaga sawit yang lebih adil dan mengurangi potensi praktik monopoli.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara menegaskan komitmennya dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia petani, penguatan kelembagaan, serta penerapan praktik perkebunan berkelanjutan guna menjaga produktivitas dan kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada sektor sawit.sinpo

Editor: Harits Tryan
Komentar: