Indonesia Siap Ekspor Minyak Kelapa Sawit Mentah dan Kakao ke Belarus

Oleh: Tim Redaksi
Rabu, 01 Juli 2026 | 03:00 WIB
Produksi kakao (Foto/Pixabay)
Produksi kakao (Foto/Pixabay)

BeritaNasional.com - Pemerintah Belarus resmi menyatakan ketertarikan untuk mengimpor minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) serta kakao dari Indonesia dalam jumlah besar.

Negara Eropa Timur tersebut membidik pasokan kakao hingga 10 ribu ton per bulan atau mencapai 120 ribu ton per tahun.

Permintaan strategis ini disampaikan langsung dalam pertemuan terbatas antara Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman dengan Putra Presiden Belarus Dmitry Lukashenko yang didampingi oleh Menteri Pertanian dan Pangan Belarus, Yuri Gorlov, di Kantor Pusat Kementan, Jakarta, Selasa (30/6/2026).

Usai pertemuan tersebut, Mentan Amran membeberkan, selain kakao yang menjadi komoditas paling diminati untuk menyokong industri, Belarus juga membutuhkan pasokan CPO Indonesia sekitar 14 ribu ton.

"(Pemerintah Belarus) minta CPO kita masuk sana. Kita kirim dan dia bilang kebutuhan 14 ribu ton. Yang kedua adalah yang paling banyak diminta adalah kakao (cokelat), itu 10 ribu ton per bulan, 120 ribu ton per tahun," kata Mentan Amran yang dikutip dari Antara pada Selasa.

Tingginya minat Belarus terhadap cokelat tanah air dinilai sebagai momentum emas bagi Indonesia untuk memperluas cengkeraman pasar ekspornya. 

Terlebih, saat ini pemerintah memang tengah gencar mendorong program penanaman kakao secara masif di berbagai wilayah Indonesia.

"(Permintaan Belarus terhadap komoditas) kakao besar tapi kan sekarang kita melakukan penanaman besar-besaran," ujar Amran.

Pertemuan kedua tokoh ini bukan sekadar membahas transaksi jual-beli komoditas. Indonesia dan Belarus juga mulai menjajaki kolaborasi di sektor modernisasi pertanian, khususnya pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan) yang selama ini menjadi keunggulan teknologi Belarus.

Melalui kemitraan ini, Indonesia membidik peluang transfer teknologi demi menggenjot produktivitas serta efisiensi pertanian domestik. Amran menambahkan, implementasi kerja sama ke depan akan digodok melalui skema business to business (B2B) maupun government to government (G2G) agar berjalan saling menguntungkan.

Sebagai informasi, pertemuan ini merupakan kelanjutan dari komunikasi intensif yang telah dibangun sejak 1 Desember 2025 lalu. 

Kunjungan kali ini mempertegas komitmen kedua negara untuk mempercepat realisasi dari rencana-rencana strategis yang sempat tertunda.

“With Belarus kita kerja sama. Ini kita dorong. Kemudian banyak hal diminta. Jadi kita kolaborasi saling menguntungkan,” tandasnya.

Sumber: Antarasinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: