Wartawan NYT Dipanggil Trump usai Beritakan Keamanan Air Force One Hadiah dari Qatar

Oleh: Kiswondari
Selasa, 14 Juli 2026 | 08:01 WIB
Presiden AS Donald Trump memamerkan Air Force One baru hadiah dari keluarga kerajaan Qatar pada 23 Juni 2026. (BeritaNasional/White House)
Presiden AS Donald Trump memamerkan Air Force One baru hadiah dari keluarga kerajaan Qatar pada 23 Juni 2026. (BeritaNasional/White House)

BeritaNasional.com - Sejumlah jurnalis New York Times (NYT) dipanggil oleh pemerintahan Donald Trump melalui surat resmi, lantaran sebuah artikel mereka yang mempertanyakan keamanan pesawat kepresidenan Air Force One yang disumbangkan Qatar pada tahun lalu. Tak tinggal diam, surat kabar tersebut lantas menuduh Gedung Putih berupaya menekan kebebasan pers. 

Melansir Russia Today (RT) pada Selasa (14/7/2026), pada Kamis (9/7/2026) lalu, New York Times menerbitkan sebuah artikel yang mengklaim bahwa pesawat kepresidenan baru yang dijuluki media sebagai "istana terbang" dan bernilai sekitar 400 juta dolar AS tidak memiliki fitur keamanan standar, termasuk pertahanan anti-rudal. Pesawat ini digunakan Trump dalam perjalanan ke KTT NATO di Turki awal pekan ini.

Dalam pemberitaannya, New York Times mengutip pejabat anonim yang mengatakan bahwa kelemahan keamanan adalah alasan presiden AS tiba-tiba mengganti pesawat baru dengan Air Force One yang lama pada penerbangan pulangnya pada hari Rabu (8/7/2026) lalu. Keputusan tersebut kabarnya dibuat atas desakan Agen Rahasia AS.

Menurut New York Times, sesaat sebelum artikel itu diterbitkan, seorang pejabat senior FBI menghubungi mereka dan meminta agar artikel tersebut dibatalkan dengan alasan keamanan nasional. Bahkan, pejabat itu juga dilaporkan mendesak surat kabar tersebut untuk mengungkapkan sumber-sumbernya.

Tak sekedar mengirim surat, pada Jumat (10/7/2026), pihak surat kabar menyebut bahwa agen federal juga mendatangi beberapa rumah jurnalis tersebut, menyampaikan surat panggilan yang mengharuskan mereka untuk memberikan kesaksian di hadapan dewan juri federal di Manhattan pada minggu depan.

Pihak surat kabar juga menggambarkan perkembangan masalah ini sebagai "eskalasi luar biasa dalam upaya Presiden Trump untuk mengancam dan mengintimidasi organisasi berita independen".

Surat perintah kepada jurnalis tersebut dilaporkan dikeluarkan oleh Jaksa Agung AS untuk Distrik Selatan New York, Jay Clayton, "sehubungan dengan dugaan pelanggaran hukum pidana federal".

“Kemunculan agen penegak hukum federal di depan pintu rumah wartawan seharusnya mengejutkan hati nurani setiap warga Amerika yang percaya pada Konstitusi dan kebebasan pers yang dilindunginya,” kata pengacara NYT, David McCraw.

Sebelumnya, Presiden AS Trump berulang kali menyebut media arus utama sebagai "curang" dan menuduh mereka menunjukkan bias terhadap pemerintahannya.

Sebagai informasi, donasi pesawat Boeing 747-8 kepada pemerintah AS yang diberikan keluarga kerajaan Qatar diumumkan Mei 2026 lalu. Para komentator pada saat itu mencatat bahwa ini bisa menjadi hadiah termahal yang pernah diterima Washington oleh pemerintah asing.

Di sisi lain, anggota parlemen AS Jamie Raskin, elite Demokrat di Komite Pengawasan DPR, menggambarkan kehadiran Qatar sebagai "penipuan" dan bersikeras bahwa "Trump harus meminta persetujuan Kongres" sebelum menerimanya.

Senada, Senator Partai Republik Ted Cruz juga memperingatkan bahwa pesawat itu "menimbulkan masalah spionase dan pengawasan yang signifikan".

Merespons kritikan tersebut, Trump menyebut bahwa itu adalah hadiah dari sebuah bangsa untuk pemerintah AS, bukan untuk dirinya pribadi.

"Itu adalah 'hadiah dari sebuah Bangsa' kepada pemerintah AS 'BUKAN UNTUK SAYA'," tulis Trump di Truth Social.

Lebih dari itu, dalam sebuah pernyataan bulan lalu, Angkatan Udara AS mengakui bahwa "tim secara kolektif melakukan kompromi pada beberapa rangkaian misi yang kurang umum digunakan" ketika memberikan izin operasional kepada pesawat sumbangan Qatar tersebut.

Sementara itu, kontrak Angkatan Udara AS dengan Boeing untuk dua jet Air Force One baru juga mengalami penundaan dan pembengkakan biaya. Pengiriman yang sempat dijadwalkan pada tahun 2024 itu, pesawat 747-8 yang telah dimodifikasi tersebut kini diperkirakan akan tiba paling lambat pada tahun 2028.

Sumber: Russia Todaysinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: