Serbu Masjid Al Aqsa, Ribuan Pemukim dan Menteri Israel Tuai Kecaman di Timur Tengah

Oleh: Tim Redaksi
Jumat, 24 Juli 2026 | 14:00 WIB
Masjid Al Aqsa. (Foto/Muslim Hands)
Masjid Al Aqsa. (Foto/Muslim Hands)

BeritaNasional.com - Aksi provokatif kembali terjadi di Kota Tua Yerusalem Timur. Ribuan pemukim Israel didampingi oleh sejumlah menteri pemerintah dan dikawal ketat oleh aparat kepolisian. 

Mereka nekat menyerbu kompleks Masjid Al Aqsa pada Kamis (23/7/2026) waktu setempat. 

Langkah sepihak ini langsung memicu gelombang kecaman luas dari berbagai negara di kawasan Timur Tengah.

Berdasarkan data dari Departemen Urusan Wakaf Yerusalem dan Masjid Al Aqsa, tercatat ada lebih dari 3.000 pemukim yang mendatangi kompleks suci tersebut.

Aksi ini dilakukan dalam rangka memperingati Tisha B'Av yang merupakan hari puasa tahunan dalam tradisi umat Yahudi.

Palestina Sebut sebagai Pelanggaran Berbahaya

Pemerintah Palestina melalui pihak Kepresidenan mengecam keras insiden tersebut.

Mereka menilai aksi penyerbuan itu sebagai bentuk pelanggaran berat serta eskalasi situasi yang sangat berbahaya.

"Ini adalah pelanggaran terang-terangan terhadap status quo historis dan hukum. Aksi ini mencerminkan adanya kebijakan sistematis untuk memaksakan realitas baru, sekaligus upaya untuk memecah belah masjid secara temporal dan spasial (waktu dan tempat)," tulis Kepresidenan Palestina dalam pernyataan resminya melalui kantor berita WAFA.

Pihak Kepresidenan juga menegaskan kembali bahwa Israel sama sekali tidak memiliki hak kedaulatan atas Yerusalem maupun tempat-tempat suci di dalamnya.

Mereka mendesak komunitas internasional untuk segera turun tangan dan memaksa Israel menghentikan segala bentuk pelanggaran di wilayah Palestina.

Liga Arab dan Mesir Peringatkan Risiko Konflik Regional

Kecaman keras juga datang dari Sekretaris Jenderal Liga Arab, Nabil Fahmy. Ia menyoroti bahwa intensitas serangan serupa melonjak drastis dalam beberapa bulan terakhir. 

Menurut dia, ada rencana berkelanjutan dari kekuatan politik penyokong pemerintah Israel untuk mengubah status quo di Kota Tua.

"Rencana pembagian ini menimbulkan bahaya besar. Upaya Israel mengubah tatanan di Kota Tua jelas melanggar hukum internasional dan berisiko memperparah ketegangan yang sudah ada," tegas Fahmy.

Senada dengan Liga Arab, Kementerian Luar Negeri Mesir juga melayangkan protes keras. Kairo menyoroti secara khusus keterlibatan Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, serta beberapa anggota parlemen (Knesset) dalam aksi penyerbuan tersebut.

Mesir memperingatkan bahwa tindakan provokatif ini dapat merusak seluruh upaya de-eskalasi konflik, menyulut ketegangan baru, serta mengancam perdamaian dan keamanan di tingkat regional.

Kompleks Masjid Al Aqsa yang dikenal oleh umat Muslim sebagai Al-Haram Al-Sharif dan oleh umat Yahudi sebagai Bukit Bait Suci (Temple Mount) merupakan salah satu situs keagamaan paling sensitif di dunia.

Berdasarkan kesepakatan internasional yang sudah berlaku lama (status quo), umat Muslim memiliki hak eksklusif untuk beribadah di sana.

Sementara itu, warga nonmuslim hanya diperbolehkan berkunjung sebagai wisatawan dan dilarang keras melakukan ritual keagamaan apa pun di dalam kompleks.

Sebagai catatan sejarah, Israel merebut wilayah Yerusalem Timur, termasuk kawasan Kota Tua, pada perang tahun 1967. 

Meski Israel kemudian melakukan pencaplokan sepihak atas wilayah tersebut, langkah klaim kedaulatan itu hingga kini tidak pernah diakui oleh komunitas internasional.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: