Wamenkomdigi Dorong Masyarakat Berpikir Kritis agar Tidak Diperbudak Teknologi

Oleh: Tim Redaksi
Sabtu, 25 Oktober 2025 | 21:20 WIB
Wamenkomdigi Nezar Patria. (Foto/Kemkomdigi)
Wamenkomdigi Nezar Patria. (Foto/Kemkomdigi)

BeritaNasional.com - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membangun pola pikir kritis dalam menyikapi dan memanfaatkan perkembangan pesat teknologi Kecerdasan Buatan (AI).

Menurut Nezar, pemikiran kritis adalah kunci agar masyarakat mampu bersikap bijak dan memastikan bahwa teknologi tetap berfungsi untuk kemanusiaan.

"Critical thinking membuat kita mempunyai kesadaran sebagai manusia terhadap teknologi. Ini penting supaya teknologi tidak memperbudak kita," kata Nezar Patria yang dikutip dari Antaranews pada Sabtu (25/10/2025).

Dengan pola pikir yang kritis, masyarakat akan dapat mengarahkan pemanfaatan AI ke arah yang positif, produktif, dan tidak merugikan orang lain. Ia menegaskan bahwa di era digital saat ini, pola pikir kritis adalah motor dan energi utama bagi kehidupan masyarakat.

Untuk memandu pemanfaatan teknologi secara etis dan bertanggung jawab, Kemkomdigi saat ini tengah menyusun Peta Jalan AI Nasional. Peta jalan ini akan menjadi panduan dalam pengembangan AI yang mengedepankan nilai etika, aman, dan berorientasi pada kemanusiaan.

Penyusunan peta jalan ini melibatkan konsultasi dan diskusi publik, termasuk menggunakan dokumen survei dari UNESCO (readiness assessment methodology) sebagai salah satu acuan.

Di balik potensi besar AI, Nezar Patria juga membeberkan dua tantangan utama yang dihadapi Indonesia dalam pengembangan teknologi dan ekonomi digital:

Pertama, kecepatan internet yang rendah. Kecepatan internet di Indonesia masih jauh di bawah rata-rata negara lain di kawasan.

"Malaysia itu sudah hampir 100 mbps, kita berada di 36,7 mbps dan ini memang membutuhkan satu program akselerasi supaya kecepatan internetnya semakin baik," ucapnya.

Kedua, kekurangan talenta digital. Indonesia diprediksi masih kekurangan sekitar 9 juta talenta digital hingga tahun 2030. Padahal, pada tahun yang sama, Indonesia berpotensi menyumbang 40 persen dari total pertumbuhan ekonomi digital ASEAN, yang diperkirakan mencapai 1 triliun dolar AS.

Nezar menekankan bahwa permasalahan ini menjadi agenda dan perhatian serius pemerintah.

"Masalah ini menjadi agenda dan perhatian pemerintah sekarang dan tentu saja ini tidak bisa dilakukan sendiri. Ini harus dilakukan secara bersama sama dengan kolaborasi," tandasnya.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: