Profil Pahlawan Nasional Sultan Muhammad Salahuddin, Sultan Bima Sang Pembaru Pendidikan dan Pejuang Rakyat

Oleh: Tim Redaksi
Senin, 10 November 2025 | 19:42 WIB
Profil pahlawan nasional Sultan Muhammad Salahuddin, Sultan Bima sang pembaru pendidikan dan pejuang rakyat. (Foto/Istimewa)
Profil pahlawan nasional Sultan Muhammad Salahuddin, Sultan Bima sang pembaru pendidikan dan pejuang rakyat. (Foto/Istimewa)

BeritaNasional.com - Sultan ke-14 Kesultanan Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) Sultan Muhammad Salahuddin tengah menjadi sorotan setelah pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional pada Hari Pahlawan tahun ini. Siapakah sosok Sultan Muhammad Salahuddin ini? Dia adalah Sultan yang dikenal sebagai sosok pemimpin visioner, religius, dan berpikiran maju. Tak hanya memimpin kerajaan, ia juga berperan besar dalam memajukan pendidikan, memperjuangkan keadilan sosial, serta meneguhkan nilai-nilai kemanusiaan di tengah masa kolonial.

Biodata Singkat Sultan Muhammad Salahuddin

Nama Lengkap: Sultan Muhammad Salahuddin
Gelar: Sultan ke-14 Kesultanan Bima
Tempat, Tanggal Lahir: Bima, Nusa Tenggara Barat, sekitar tahun 1888
Agama: Islam
Pangkat dan Jabatan: Sultan Bima (1915/1917 – 1951)
Wafat: 11 Juli 1951 di Jakarta
Ditetapkan sebagai: Pahlawan Nasional Indonesia (2025)

Keluarga Sultan Muhammad Salahuddin

Sultan Muhammad Salahuddin lahir di lingkungan Istana Kesultanan Bima, sebagai putra dari Sultan Ibrahim, Sultan ke-13 Bima. Sejak kecil, ia tumbuh dalam lingkungan istana yang kental dengan ajaran Islam dan nilai-nilai kepemimpinan.

Ia menikah dengan Siti Maryam, perempuan bangsawan Bima yang dikenal salehah dan aktif dalam kegiatan sosial. Dari pernikahan tersebut, Sultan Muhammad Salahuddin dikaruniai beberapa anak yang kemudian meneruskan semangat pengabdian terhadap rakyat dan agama.

Sebagai keluarga bangsawan, kehidupan istana tidak membuatnya jauh dari rakyat. Justru, Sultan Muhammad Salahuddin dikenal akrab dengan masyarakat, sering turun langsung ke lapangan untuk melihat kehidupan warganya.

Pendidikan Sultan Muhammad Salahuddin

Sejak muda, Sultan Muhammad Salahuddin menempuh pendidikan agama dan pemerintahan dari para ulama terkemuka di Bima. Ia juga banyak belajar kepada guru-guru agama dari Makassar dan Jawa, mempelajari fiqih, sejarah Islam, dan ilmu pemerintahan.

Pendidikan ini membentuk kepribadian yang kuat dan religius. Ia meyakini bahwa seorang pemimpin harus memahami ilmu agama dan ilmu sosial agar bisa menyeimbangkan antara moral dan kebijakan publik. Berbekal pemahaman itu, Sultan Muhammad Salahuddin tumbuh menjadi sosok pemimpin yang moderen dalam berpikir, namun tetap berakar pada nilai-nilai Islam.

Perjalanan Karier dan Pemikiran Sultan Muhammad Salahuddin

Sultan Muhammad Salahuddin naik takhta menggantikan ayahandanya, Sultan Ibrahim, sekitar tahun 1915–1917. Kemudin, masa pemerintahannya berlangsung hingga ia wafat pada 1951.

Pada awal pemerintahannya, Bima masih berada di bawah pengaruh kolonial Belanda. Namun, Sultan Muhammad Salahuddin berani mengambil langkah-langkah pembaruan agar rakyatnya tidak tertinggal. Ia memperkenalkan pendidikan moderen, pemberdayaan perempuan, serta sistem administrasi pemerintahan yang lebih terbuka.

Pemikiran progresifnya menjadikan Kesultanan Bima dikenal sebagai salah satu kerajaan yang paling maju di kawasan timur Indonesia pada masa itu. Ia pun menolak pandangan feodal yang mengekang rakyat, dan justru membuka ruang bagi masyarakat umum untuk mengakses pendidikan dan kemajuan ekonomi.

Semasa hidupnya, Sultan Muhammad Salahuddin tidak hanya bertindak sebagai penguasa istana, tetapi juga sebagai pendidik dan pembaru sosial bagi masyarakat Bima. Di antaranya, mendirikan sekolah-sekolah umum dan agama di Bima serta memberikan beasiswa bagi pelajar berprestasi untuk melanjutkan studi ke Makassar, Jawa, dan Timur Tengah.

Sultan Muhammad Salahuddin juga mendirikan sekolah keterampilan untuk perempuan (Kopschool) langkah revolusioner pada masanya untuk meningkatkan peran perempuan di masyarakat, membangun lembaga keagamaan dan masjid, serta mengirimkan guru agama ke pelosok wilayah.

Selain itu, ia pun mendorong sistem pemerintahan yang inklusif, di mana rakyat biasa dapat berpartisipasi dalam pembangunan dan pengambilan keputusan. Serta, menjaga hubungan diplomatik dengan Belanda tanpa kehilangan jati diri dan kedaulatan Kesultanan Bima.

Sultan Muhammad Salahuddin juga dikenal sebagai pendukung kemerdekaan Indonesia. Saat Republik Indonesia berdiri pada 1945, ia memberikan dukungan politik dan moral, serta mendorong rakyat Bima untuk ikut menjaga keutuhan NKRI.

Nilai-Nilai Kepemimpinan Sultan Muhammad Salahuddin

Sultan Muhammad Salahuddin dikenal memiliki nilai-nilai kepemimpinan yang luhur dan relevan hingga kini. Di antara nilai-nilai tersebut adalah:
1. Berpihak pada rakyat: Ia meyakini bahwa kekuasaan sejati terletak pada kemampuan melayani rakyat, bukan memerintah mereka.
2. Pendidikan untuk semua: Ia menolak diskriminasi pendidikan berdasarkan status sosial dan memperjuangkan kesetaraan bagi laki-laki dan perempuan.
3. Keadilan dan moralitas: Setiap kebijakan diambil dengan pertimbangan etika dan ajaran Islam.
4. Kemandirian dan nasionalisme: Meski hidup di masa kolonial, beliau menanamkan semangat cinta tanah air dan harga diri bangsa.
5. Kepemimpinan berwawasan luas: Ia mampu menggabungkan nilai tradisional dan modern, menjadikan Bima sebagai kerajaan yang maju namun tetap religius.

Warisan dan Pengaruh Sultan Muhammad Salahuddin

Warisan Sultan Muhammad Salahuddin masih terasa hingga kini di Bima dan sekitarnya. Terbukti, banyak sekolah, masjid, dan lembaga sosial yang berdiri berkat gagasan dan dukungannya. Gedung Istana Kesultanan Bima, yang dibangun pada masa pemerintahannya, kini menjadi museum sejarah dan pusat kebudayaan.

Pemikirannya tentang pendidikan, peran perempuan, dan keadilan sosial menjadi inspirasi bagi generasi muda dan pemerintah daerah dalam membangun masyarakat yang beradab. Tak hanya di Bima, tetapi di seluruh Nusa Tenggara Barat, beliau dikenang sebagai Sultan pembaru yang berjiwa nasionalis dan humanis.

Wafatnya Sultan Muhammad Salahuddin

Sultan Muhammad Salahuddin wafat pada 11 Juli 1951 di Jakarta, setelah mengabdi lebih dari tiga dekade untuk rakyat dan bangsanya. Ia dimakamkan dengan penuh penghormatan sebagai tokoh besar Nusantara.

Sebagai bentuk apresiasi atas jasa-jasanya, pemerintah Republik Indonesia pada tahun 2025 resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Muhammad Salahuddin. Penghargaan ini menjadi pengakuan atas dedikasinya dalam memperjuangkan pendidikan, kemanusiaan, dan kemerdekaan rakyat.

(Rep/Novia Amelia)sinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: