Tragedi SMA 72 Buka Mata Dunia Pendidikan: Jangan Anggap Sepele Bullying!

Oleh: Ahda Bayhaqi
Selasa, 11 November 2025 | 11:48 WIB
Dua senjata ditemukan di TKP Ledakan SMAN 72 Jakarta Utara. (Foto/Humas Polri)
Dua senjata ditemukan di TKP Ledakan SMAN 72 Jakarta Utara. (Foto/Humas Polri)

BeritaNasional.com -  Kasus ledakan di SMA 72 Kelapa Gading, Jakarta, menunjukkan bahwa kasus bullying atau perundungan tidak boleh disepelekan.

Sebab, berdasarkan informasi yang beredar, pelaku merupakan siswa korban bullying. Anggota Komisi X DPR RI, Habib Syarief Muhammad, mendorong Kemendikdasmen untuk memperkuat langkah pencegahan perundungan di lingkungan pendidikan.

“Kita tidak boleh menyepelekan kasus bullying di sekolah. Dampaknya sangat serius bagi korban, bahkan bisa berujung pada tindakan ekstrem seperti yang baru saja terjadi. Sekolah dan Kemendikdasmen harus tegas mencegah dan menindak perundungan agar tidak ada lagi korban,” ujar Syarief dalam keterangannya, Selasa (11/11/2025).

Kasus ini menjadi alarm bagi dunia pendidikan, bahwa masalah psikologis dan sosial siswa tidak bisa diabaikan.

Menurut Syarief, selain masalah penegakan hukum terhadap pelaku ledakan, pemerintah memiliki pekerjaan rumah besar dalam menyelesaikan akar masalah perundungan di sekolah.

Politikus PKB ini menekankan pentingnya peran orang tua dalam memberikan edukasi kepada anak-anak tentang bahaya dan dampak negatif dari tindakan perundungan.

“Orang tua harus aktif memberikan pemahaman kepada anak-anaknya. Jangan sampai mereka tumbuh tanpa empati terhadap sesamanya. Pencegahan bullying bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga keluarga,” tegasnya.

Ia berharap Kemendikdasmen dapat segera melakukan evaluasi terhadap sistem pembinaan karakter dan layanan konseling di sekolah agar siswa memiliki ruang aman untuk berbagi masalah, termasuk dalam kasus kekerasan psikologis dan sosial.

“Kita ingin sekolah menjadi tempat yang aman, inklusif, dan mendidik. Jangan sampai lingkungan pendidikan justru melahirkan tekanan mental bagi peserta didik,” tutup Syarief.sinpo

Editor: Imantoko Kurniadi
Komentar: