Profil Ribka Tjiptaning, Dokter Nyentrik Keturunan Ningrat yang Senggol Soeharto

Oleh: Kiswondari
Jumat, 14 November 2025 | 07:25 WIB
Profil Ribka Tjiptaning, dokter nyentrik keturunan ningrat yang senggol Soeharto. (Foto/DPR RI)
Profil Ribka Tjiptaning, dokter nyentrik keturunan ningrat yang senggol Soeharto. (Foto/DPR RI)

BeritaNasional.com - Nama Ribka Tjiptaning jadi topik hangat di perbincangan publik usai pernyataannya yang menyebut Presiden RI ke-2 Soeharto sebagai pembunuh jutaan rakyat, menanggapi gelar pahlawan nasionalnya. Ribka berprofesi sebagai dokter dan juga politisi PDI Perjuangan (PDIP) yang pernah jadi anggota DPR empat periode. Seperti apa sosoknya? Berikut adalah profil lengkap Ribka Tjiptaning yang dikutip BeritaNasional dari berbagai sumber, Jumat (14/11/2025). 

Keluarga Ribka Tjiptaning

Ribka Tjiptaning Proletariyati lahir di Yogyakarta tanggal 1 Juli 1959. Ia merupakan anak ketiga dari lima orang saudara di keluarga ningrat Jawa, ayahnya bernama Raden Mas Soeripto Tjondro Saputro yang merupakan pengusaha kaya sekaligus aktivis Partai Komunis Indonesia (PKI), keturunan Kasunan Solo (Pakubowono) dan pemilik sebuah pabrik paku di Solo. Sedangkan Ibunya dari keturunan Keraton Kasultanan Yogyakarta bernama Bandoro Raden Ayu Lastri Suyati. 

Semasa kecil, Ribka hidup dalam keadaan yang serba kecukupan karena ayahnya seorang konglomerat yang memiliki lima pabrik besar pada saat itu. Namun, peristiwa Gerakan 30 September 1965/PKI (G30S/PKI) mengubah jalan hidup keluarganya. Ia yang masih duduk di TK harus menyaksikan awal-awal kejatuhan keluarganya, di mana Ayah yang dikaguminya tidak pernah lagi pulang ke rumah sedangkan Ibu yang disayanginya dibawa oleh tentara.

Ribka tak pernah mau mengakui bahwa ia merupakan keturunan PKI, hal ini pun pernah dipublikasi dalam artikel di CNN Indonesia pada 2 November 2022 lalu. 

Ribka Tjiptaning kemudian menikah dengan Sigit Herlambang, dari pernikahannya dia dan suami dikaruniai enam orang anak. 

Pendidikan Ribka Tjiptaning

Ribka Tjiptaning menamatkan pendidikan kedokterannya di Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta pada 1978-1990. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan S2 dengan jurusan Ahli Asuransi Kesehatan di Universitas Indonesia (UI) pada 2012.

Perjalanan Karier Ribka Tjiptaning

Sebelum terjun ke dunia politik, Ribka pernah membuka praktik sebagai dokter di Klinik Partuha Ciledug, Banten. Melansir situs DPR, Ribka juga pernah bekerja menjadi dokter di perusahaan milik putri Megawati Sooekarnoputri, Puan Maharani pada 1992-2000.

Kemudian, ia masuk bursa calon legislatif (caleg) PDIP pada Pemilu Legislatif (Pileg) 2004, Ribka pun terpilih dari daerah pemilihan (Dapil) Jawa Barat (Jabar) III. Setelahnya, Ribka terpilih kembali di Pileg 2009, Pileg 2014 dan Pileg 2019. Dengan demikian, ia telah menjadi anggota DPR selama empat periode sebagai anggota DPR dari Dapil Jabar IV. 

Selama di DPR, Ribka selama 17 tahun lebih duduk di Komisi IX DPR yang membidangi urusan kesehatan, kependudukan dan ketenagakerjaan. Ia juga pernah menduduki posisi Ketua Komisi IX DPR RI pada periode 2009-2014. Selain itu, Ribka menjadi anggota Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR RI.

Namun pada Januari 2021, ia dirotasi ke Komisi VII DPR yang membidangi energi, riset dan teknologi karena pernyataan kontroversinya yang enggan divaksinasi Covid-19. Meski dia menerima rotasi dari Fraksi PDIP, ia menyebut rotasi ini lucu karena sebagai dokter dia justru diminta mengurusi masalah minyak.

Kontroversi Ribka Tjiptaning

Tak hanya gayanya yang nyentrik dengan rambut bondol khasnya. Selama menjadi anggota DPR, Ribka dikenal vokal, kritis, berani dan ceplas-ceplos. Ia beberapa kali menuai kontroversi lewat pernyataannya. 

Badan Kehormatan DPR RI yang kini menjadi Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR memberinya sanksi terkait dugaan pelanggaran etika. Kasus ini mencuat karena hilangnya Ayat (2) Pasal 113 yang mengatur zat adiktif tembakau dalam Rancangan Undang-Undang Kesehatan pada era pertama pemerintahan Presiden Joko Widodo. 

Kemudian, Ribka Tjiptaning juga pernah menyatakan tidak mau divaksinasi COVID-19 dengan alasan vaksinasi polio dan kaki gajah yang disebutnya memakan korban di Tanah Air. Padahal, saat itu semua orang wajib divaksinasi dalam rangka penanggulangan Covid-19.

Yang pasti, kontroversi terbesar perempuan yang akrab disapa Mbak Ning ini adalah buku karyanya yang berjudul “Aku Bangga Jadi Anak PKI” pada 2002. Buku itu menuai perdebatan luas di seluruh negeri karena keberaniannya mengangkat topik yang hingga kini masih dianggap sangat sensitif dalam sejarah politik Indonesia.

Dua buku lain yang ditulisnya berjudul "Ucapanku Adalah Perlawananku! Kumpulan Puisi" pada 2008, dan "Menyusuri Jalan Perubahan" pada 2012.

Kontroversi terbarunya adalah menyebut Presiden RI ke-2 sebagai pembunuh jutaan rakyat Indonesia. Ini merupakan ungkapan kekecewaan Mbak Ning atas pemberian gelar pahlawan nasional oleh Presiden Prabowo Subianto pada 10 November 2025 kemarin. Pernyataan ini yang membuatnya dilaporkan ke Bareskrim Polri oleh Aliansi Rakyat Anto Hoaks (ARAH) pada Rabu (12/11/2025) kemarin.

Sekian informasi mengenai profil Ribka Tjiptaning, semoga informasi ini bermanfaat. sinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: