Idrus Marham Minta PBNU Fokus Rekonsiliasi, Hindari Konflik Politik Internal
BeritaNasional.com - Anggota MPO PB IKA PMII, Idrus Marham, menyerukan agar konflik internal dalam tubuh (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) PBNU segera fokus untuk dijernihkan, bukan dijadikan ajang konsolidasi kelompok.
Menurutnya, gejolak yang terjadi saat ini bukan sekadar persoalan figur, melainkan sinyal bahwa NU semakin menjauh dari nilai “kepemilikan bersama“ yang menjadi jiwa utama jam’iyah. Ia menegaskan bahwa NU tidak boleh dijadikan “zona perebutan kekuasaan” di antara segelintir elit.
Menurut dia, PBNU harus kembali menjalankan nilainilai musyawarah, transparansi dan pengabdian kepada warga NU bukan menjadi tempat untuk manuver politik internal.
“NU ini milik rakyat, milik warga NU, bukan milik satu kelompok kecil,” kata Idrus dalam pernyataannya, Senin (24/11/2025).
Ia mengajak agar semua pihak kembali mengingat sejarah NU yang dibangun oleh para ulama pesantren dan tokoh bangsa yang mencurahkan hidupnya untuk umat, seperti K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Bisri Denanyar, K.H. Ridwan Semarang, K.H. Nawawi Pasuruan, hingga para tokoh penyusun kepengurusan PBNU pertama pada 1926. Nilai ketulusan, keikhlasan, dan orientasi kemaslahatan umat yang diwariskan para muassis, katanya, harus menjadi standar moral dalam menyikapi dinamika organisasi hari ini.
Idrus menilai perbedaan pendapat adalah hal wajar dalam organisasi. Namun jika perpecahan dipicu oleh perbedaan kepentingan, maka itu merupakan ancaman serius terhadap marwah jam’iyah dan kepercayaan umat.
“Begitu kepentingan lain masuk dan menguasai organisasi, NU hanya akan menjadi panggung perebutan pengaruh,” katanya.
Dugaan pemicu kisruh adalah tuduhan ketidaktransparanan pengelolaan keuangan PBNU serta kehadiran narasumber kontroversial dalam kegiatan Akademi Kepemimpinan Nasional (AKN) NU. Gus Yahya mengakui isu itu telah dibahas dalam rapat Syuriah dan mengatakan sebagian anggota menyesal setelah mendapatkan penjelasan utuh.
Menurut Idrus Marham, krisis PBNU saat ini menjadi momen penting bagi NU untuk introspeksi dan memperkuat jati dirinya sebagai organisasi sosial-keagamaan yang berdiri di atas nilai moral, bukan sebagai ajang politik elit. Ia menegaskan bahwa konflik internal harus segera dikelola agar tidak merusak kepercayaan warga NU dan publik pada institusi PBNU.
“Tidak cukup hanya klarifikasi internal, tetapi perlu ada langkah nyata menuju rekonsiliasi dan transparansi agar NU tetap berfungsi sebagai rumah besar umat, bukan panggung manuver kekuasaan,” tegas Idrus

GAYA HIDUP | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
PERISTIWA | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 23 jam yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu






