Bantah Matikan Industri Lokal, Begini Pembelaan Pedagang Thrifting ke DPR

Oleh: Kiswondari
Selasa, 02 Desember 2025 | 15:15 WIB
Bantah matikan industri lokal, begini pembelaan pedagang thrifting ke DPR. (Foto/BNPB)
Bantah matikan industri lokal, begini pembelaan pedagang thrifting ke DPR. (Foto/BNPB)

BeritaNasional.com - Dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Komisi VI DPR, Aliansi Pedagang Pakaian Bekas Indonesia (APPBI) membantah tudingan bahwa pakaian bekas atau thrifting yang mematikan industri pakaian lokal, sebagaimana yang disampaikan Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita. Menurut APPBI, industri pakaian lokal tergerus oleh pasar online yang menjamur. 

"Isu dari Menperin bahwa ini mematikan industri dalam negeri. Sepengalaman kami, kita berbicara dengan konsumen satu per satu, mereka terkikis sama pasar online," kata Ketua Umum Aliansi Pedagang Pakaian Bekas Indonesia (APPBI) WR Rahasdikin di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (2/12/2025). 

Rahasdikin menjelaskan, pedagang pakaian lokal yang tadinya menyewa toko di pasar tradisional atau pasar moderen, tidak lagi mampu membayar sewa karena harga sewa mereka yang tidak lagi terjangkau yakni Rp50 juta-Rp200 juta, sehingga para pedagang ini lebih beralih ke online. Ditambah dengan modal untuk membeli barang yang akan dijual, sehingga pedagang pun memilih berjualan thrifting. 

"Kenapa mereka memilih pakaian bekas? Karena harga terjangkau untuk modal mereka. Kalau mereka harus menyewa tempat, itu Rp 50 juta sampai Rp 200 juta. Belum lagi barang," ujarnya. 

"Makanya lebih memilih secara online menggunakan pakaian bekas, karena harga terjangkau," imbuh Rahasdikin.

Kemudian, sambung dia, masyarakat Indonesia juga punya kebiasaan berbelanja pakaian setahun sekali dan biasanya saat bulan puasa atau jelang Idul Fitri. Dan dengan perbedaan UMR di tiap daerah, masyarakat tidak terjangkau membeli baju baru dengan harga ratusan ribu sementara mereka memiliki beberapa anak dalam satu keluarga. 

"Mungkin untuk membeli celana seharga Rp 200 ribu, kalau kita asumsikan satu keluarga punya satu anak, dengan UMR terendah Rp2,5 juta, untuk beli pakaian tiap bulan kayaknya berat. Makanya mereka beralih nih, ke pakaian bekas," terangnya. 

Karena itu, menurut Rahasdikin, tidak menutup kemungkinan bahwa bisnis pakaian bekas ini bukan sumber masalah mandeknya UMKM, apalagi mematikan industri lokal. Tapi berdasarkan kajian yang tidak ia sebutkan sumbernya, terjadi penumpukan sampah tekstil yang saat ini di Indonesia belum ada pengelolaannya. 

"Saya lihat di beberapa negara, sampah tekstil atau dari pakaian bekas ini mereka cacah, dikirim ke Dubai, Qatar, Singapore, negara-negara yang produksi perusahaan migas, jadi dijadikan kain lap," terangnya.sinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: