18 Desember, Hari Jadi Banyuwangi: Sejarah Blambangan dan Kisah Banyu Wangi

Oleh: Tim Redaksi
Rabu, 17 Desember 2025 | 20:01 WIB
Agrowisata Tamansuruh, Banyuwangi. (Foto/doc. banyuwangitourism)
Agrowisata Tamansuruh, Banyuwangi. (Foto/doc. banyuwangitourism)

BeritaNasional.com - Banyuwangi dikenal sebagai daerah di ujung timur Pulau Jawa yang menyimpan kisah panjang penuh perjuangan dan cerita budaya.

Wilayah ini bukan sekadar pintu gerbang Jawa menuju Bali, tetapi juga tempat lahirnya peristiwa sejarah besar serta legenda rakyat yang hingga kini masih hidup di tengah masyarakat.

Sejarah Banyuwangi

Berdasarkan data sejarah yang dirujuk dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, banyuwangikab.go.id, perjalanan sejarah Banyuwangi tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Kerajaan Blambangan, sebuah kerajaan besar bercorak Hindu yang pernah berjaya di Jawa Timur.

Blambangan dikenal sebagai salah satu kerajaan terakhir yang bertahan setelah runtuhnya Majapahit. Dalam berbagai catatan sejarah, wilayah ini memiliki posisi strategis dan kekuatan politik yang cukup disegani.

Pada masa pemerintahan Pangeran Tawang Alun dan Pangeran Danuningrat, Blambangan masih mampu menjaga kedaulatannya dari campur tangan pihak asing.

Bahkan ketika wilayah ini berada di bawah pengaruh Bali, VOC Belanda belum menunjukkan ketertarikan serius untuk menguasainya. Blambangan dianggap sebagai wilayah simpanan yang sewaktu-waktu baru akan dikelola jika dinilai penting.

Situasi mulai berubah ketika pada tahun 1766 Inggris mendirikan kantor dagang di kawasan pelabuhan kecil Banyuwangi, yang saat itu dikenal dengan beberapa nama, seperti Tirtaganda atau Toyaarum.

Kehadiran Inggris membuat Banyuwangi berkembang menjadi pusat perdagangan yang cukup ramai. Hal inilah yang kemudian mendorong VOC untuk segera bergerak dan mengamankan wilayah Blambangan.

Upaya VOC tersebut memicu rangkaian peperangan panjang antara tahun 1767 hingga 1772. Salah satu perlawanan besar terjadi pada tahun 1768, ketika pasukan Blambangan yang dipimpin Pangeran Puger menyerang benteng VOC di Banyualit.

Meski serangan ini berakhir dengan gugurnya Pangeran Puger dan tidak tercatat secara lengkap, peristiwa tersebut menunjukkan kuatnya semangat perlawanan rakyat Blambangan.

Puncak konflik terjadi dalam Perang Puputan Bayu, sebuah pertempuran besar yang mencapai klimaks pada 18 Desember 1771.

Peristiwa inilah yang kemudian dianggap sebagai titik penting dalam lahirnya Banyuwangi sebagaimana dikenal saat ini. Oleh karena itu, 18 Desember 1771 ditetapkan sebagai Hari Jadi Banyuwangi, karena memiliki keterkaitan langsung dengan proses sejarah terbentuknya daerah tersebut.

Legenda Asal-usul Nama Banyuwangi

Di samping catatan sejarah, Banyuwangi juga memiliki kisah legenda yang diwariskan secara turun-temurun, yakni Legenda Sri Tanjung, yang menjadi asal-usul penamaan daerah ini.

Dikisahkan pada masa lampau hiduplah seorang patih bernama Sidopekso bersama istrinya, Sri Tanjung, yang dikenal akan kecantikan dan kesetiaannya.

Ketika Sidopekso sedang menjalankan tugas kerajaan, Sri Tanjung difitnah telah berbuat tidak setia oleh rajanya sendiri. Tanpa mencari kebenaran, Sidopekso mempercayai fitnah tersebut dan membunuh istrinya di tepi sungai.

Namun keajaiban terjadi. Dari tubuh Sri Tanjung tidak mengalir darah, melainkan air yang memancarkan aroma harum. Menyadari kesalahannya, Sidopekso menyesal dan menyebut air itu sebagai “banyu wangi”, atau air yang harum. Sejak saat itulah, wilayah tersebut dikenal dengan nama Banyuwangi.

Legenda ini menjadi simbol kesetiaan, kejujuran, dan penyesalan, sekaligus memperkaya identitas budaya masyarakat Banyuwangi hingga saat ini.

Banyuwangi lahir dari perpaduan antara sejarah perjuangan yang panjang dan cerita rakyat yang sarat makna. Peristiwa Perang Puputan Bayu mencerminkan semangat perlawanan masyarakat Blambangan, sementara legenda Sri Tanjung menanamkan nilai moral yang kuat dalam budaya lokal.

Kedua kisah tersebut menjadikan Banyuwangi bukan sekadar wilayah geografis, melainkan cermin sejarah dan kebudayaan yang terus hidup dari generasi ke generasi.

(Rep/Shafira)sinpo

Editor: Imantoko Kurniadi
Komentar: