Ini 4 Anak Orangutan Menggemaskan yang Direpatriasi Pemerintah RI dari Thailand

Oleh: Kiswondari
Rabu, 24 Desember 2025 | 18:30 WIB
Ini empat anak orangutan menggemaskan yang direpatriasi Pemerintah RI dari Thailand. (BeritaNasional/Instagram KBRI Bangkok)
Ini empat anak orangutan menggemaskan yang direpatriasi Pemerintah RI dari Thailand. (BeritaNasional/Instagram KBRI Bangkok)

BeritaNasional.com - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Bangkok merepatriasi atau memulangkan kembali empat Orangutan Sumatera (Pongo abelii) dan Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) korban perdagangan ilegal satwa liar dari Thailand ke Indonesia.

Empat orangutan itu tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten, pada Selasa (23/12/2025) pukul 17.30 WIB menggunakan pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA-867, setelah sebelumnya diserahkan secara resmi oleh Pemerintah Thailand kepada Pemerintah Indonesia melalui KBRI Bangkok di Bandara Internasional Suvarnabhumi, Bangkok pada hari yang sama.

"Saya terpukul dan merasa sedih karena kejahatan jual beli satwa liar masih terus terjadi. Oleh karena itu dibutuhkan kerja keras dan sinergi antar kementerian dan lembaga untuk menjaga perbatasan kita agar kejahatan ini tidak terulang," kata Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni dalam pernyataan di laman resmi Kemenhut, yang dikutip Rabu (24/12/2025).

Raja Juli juga menyoroti kondisi hutan Sumatera sebagai habitat alami orangutan yang saat ini masih menghadapi berbagai tekanan lingkungan.

"Kesedihan kedua adalah kondisi hutan Sumatera yang belum sepenuhnya baik akibat bencana dan tekanan lainnya. Repatriasi ini menjadi pengingat bagi Kemenhut untuk melakukan evaluasi komprehensif dan memastikan hutan dapat dijaga sebaik-baiknya, sehingga orangutan dapat tetap hidup aman di habitat alaminya," ujarnya.

Simbol Eratnya Persahabatan RI-Thailand

Sementara itu, repatriasi empat orangutan yakni, Bow, Noon, Jay, dan Raiking (Tua Yai), merupakan wujud nyata kerja sama konservasi Indonesia–Thailand sekaligus bagian dari peringatan 75 tahun hubungan diplomatik kedua negara dalam kerangka Kemitraan Strategis.

“Repatriasi ini bukan sekadar pemulangan satwa, tetapi simbol eratnya persahabatan dan komitmen bersama Indonesia dan Thailand dalam melindungi keanekaragaman hayati,” ujar Duta Besar RI untuk Thailand, H.E. Rachmat Budiman dalam keterangan resminya.

Selanjutnya, kata Rachmat, keempat orangutan akan menjalani rehabilitasi di Sumatran Rescue Alliance Orangutan Rehabilitation and Rescue Center sebelum dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya.

Berdasarkan hasil identifikasi fisik dan uji DNA, empat orangutan yang terdiri dari tiga individu Orangutan Sumatera yaitu dua jantan dan satu betina serta satu individu betina Orangutan Tapanuli. Hasil pemeriksaan menunjukkan keempatnya masih memiliki peluang besar untuk menjalani proses rehabilitasi.

Selama penerbangan ke Indonesia, orangutan ditempatkan dalam kandang khusus sesuai standar International Air Transport Association (IATA) dan didampingi dokter hewan untuk memastikan kondisi kesehatannya tetap terpantau.

Pemulangan tersebut merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Indonesia dalam melindungi dan melestarikan satwa liar dilindungi. Dukungan Garuda Indonesia Airlines dalam proses repatriasi ini juga menunjukkan peran aktif dunia usaha dalam mendukung upaya konservasi keanekaragaman hayati nasional.

Empat individu orangutan itu merupakan hasil sitaan otoritas Thailand dari kasus perdagangan ilegal satwa liar yang digagalkan pada Januari dan Mei 2025. Saat disita, usia orangutan diperkirakan masih di bawah satu bulan dan selanjutnya dirawat di Khao Pratubchang Wildlife Rescue Centre, Provinsi Ratchaburi, Thailand, sebagai barang bukti oleh Department of National Park, Wildlife and Plant Conservation (DNP) Thailand.

Rencana selanjutnya, keempatnya akan dititip untuk perawatan di Pusat Rehabilitasi Sumatran Rescue Alliance (SRA) di Besitang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, sebelum dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya.sinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: