Filosofi Omisoka, Cara Unik Orang Jepang Menghapus Beban Masa Lalu dan Menyambut Harapan Baru

Oleh: Tim Redaksi
Rabu, 31 Desember 2025 | 03:30 WIB
Ilustrasi peringatan omisoka. (Foto/Istimewa)
Ilustrasi peringatan omisoka. (Foto/Istimewa)

BeritaNasional.com - Omisoka dikenal sebagai hari terakhir dalam setahun di Jepang. Momen ini memiliki arti khusus karena tidak hanya menandai pergantian kalender, tetapi juga sarat dengan tradisi yang mengandung doa dan harapan baik untuk tahun yang akan datang.

Sejarah Omisoka

Pada masa lalu, Jepang menggunakan kalender lunisolar, seperti kalender Tempo. Dalam sistem tersebut, omisoka  jatuh pada tanggal 30 bulan ke-12, meski dalam beberapa kondisi bisa terjadi pada tanggal 29 bulan ke-12. Istilah misoka (晦日) sendiri digunakan untuk menyebut hari terakhir setiap bulan.

Hari terakhir pada bulan ke-12 disebut omisoka atau “misoka besar”. Selain itu, dikenal pula sebutan ōtsugomori (大つごもり), yang berasal dari kata tsukigomori (月隠り), bermakna hilangnya bulan dari peredaran.

Sejak Jepang resmi mengadopsi kalender Gregorian pada tahun 1873, perayaan omisoka secara konsisten berlangsung setiap tanggal 31 Desember.

Tradisi yang Melekat pada Omisoka

Salah satu kebiasaan yang paling identik dengan omisoka adalah menikmati toshikoshi soba pada malam pergantian tahun. Hidangan mi soba berkuah ini biasanya disantap bersama keluarga sebagai simbol harapan akan kesehatan, kedamaian, dan umur panjang.

Mi soba dianggap membawa makna positif karena terbuat dari gandum kuda, tanaman yang dikenal kuat dan mampu bertahan dalam kondisi cuaca ekstrem. Ketangguhan tanaman tersebut melambangkan semangat untuk bangkit dan menjalani kehidupan yang lebih baik di tahun baru.

Pada zaman Edo, para pedagang kerap bekerja hingga larut malam di hari terakhir bulan. Mereka menjadikan soba sebagai menu makan malam. Sementara itu, perajin emas memanfaatkan adonan soba untuk mengumpulkan serpihan emas, sehingga soba dipercaya berkaitan dengan keberuntungan dan rezeki.

Karena teksturnya yang mudah terputus, soba juga dimaknai sebagai simbol lepasnya utang serta beban hidup saat memasuki tahun yang baru.

Usai pergantian tahun, masyarakat Jepang melakukan hatsumode, yakni kunjungan pertama ke kuil Shinto atau Buddha. Ada pula tradisi ninenmairi, di mana orang mengunjungi kuil pada malam tahun lama dan kembali lagi setelah tahun baru dimulai.

Menjelang pergantian tahun, ucapan yang umum disampaikan adalah “Yoi o-toshi o”, yang berarti harapan agar tahun depan menjadi lebih baik. Setelah memasuki tanggal 1 Januari, masyarakat menggunakan ucapan “Akemashite omedetō gozaimasu”, yang biasanya disertai kalimat “Honnen mo dōzo yoroshiku onegaishimasu” sebagai bentuk harapan dan permohonan kerja sama di tahun baru.

Selain itu, malam omisoka juga diramaikan oleh berbagai program televisi khusus, seperti Kōhaku Uta Gassen dan Yuku Toshi Kuru Toshi dari NHK, serta Nippon no Uta yang ditayangkan TV Tokyo.

Bagi masyarakat Jepang, omisoka bukan sekadar akhir dari satu tahun kalender. Hari ini menjadi waktu untuk merenung, melepaskan beban masa lalu, serta menyiapkan diri menyambut tahun baru dengan optimisme. Melalui rangkaian tradisi yang dijalani, omisoka menjadi simbol peralihan yang penuh makna antara masa lalu dan masa depan. 

(Rep/Shafira)sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: