Drama TikTok di AS Berakhir, Konsorsium Oracle Ambil Alih Mayoritas Kepemilikan dari ByteDance
BeritaNasional.com - Setelah empat tahun penuh ketegangan diplomatik dan ketidakpastian hukum, saga masa depan TikTok di Amerika Serikat akhirnya mencapai titik terang.
Platform video pendek populer ini secara resmi menandatangani kesepakatan untuk melepaskan sebagian besar entitas operasionalnya di AS kepada sekelompok investor Amerika.
Keputusan ini menjadi puncak dari kekhawatiran panjang pemerintah AS mengenai keamanan data pengguna yang diduga bisa diakses oleh pemerintah Tiongkok melalui ByteDance, perusahaan induk TikTok yang berbasis di Beijing.
Siapa Pemilik Baru TikTok AS?
Berdasarkan memo internal yang beredar, operasional TikTok di Amerika kini akan dikelola oleh entitas baru bernama "TikTok USDS Joint Venture LLC".
Kelompok investor yang memenangkan pertempuran akuisisi ini dipimpin oleh raksasa teknologi Oracle, perusahaan ekuitas swasta Silver Lake, dan firma investasi MGX.
Secara kolektif, konsorsium ini akan memegang 45% hingga 80% saham operasional AS (tergantung pada finalisasi valuasi).
Sementara itu, ByteDance diperkirakan masih mempertahankan sekitar 20% kepemilikan. Wakil Presiden JD Vance menyebutkan bahwa valuasi TikTok AS dalam kesepakatan ini mencapai angka fantastis, yakni sekitar 14 miliar dolar AS (sekitar Rp215 triliun).
Dalam struktur baru ini, Oracle memegang peran krusial sebagai mitra keamanan tepercaya. Oracle bertanggung jawab untuk:
- Mengaudit dan memastikan kepatuhan terhadap standar keamanan nasional AS.
- Mengelola infrastruktur cloud dan data seluruh pengguna Amerika.
- Melatih ulang dan mengamankan algoritma baru yang disewa dari ByteDance, sehingga pihak Tiongkok tidak lagi memiliki pengaruh atau akses ke informasi pengguna di AS.
Transisi Besar: Aplikasi Baru untuk Pengguna?
Kabar yang beredar dari laporan Bloomberg menunjukkan adanya perubahan besar bagi pengguna. Setelah kesepakatan ini rampung sepenuhnya pada 22 Januari 2026, aplikasi TikTok yang ada saat ini kemungkinan akan dihentikan dan pengguna diminta beralih ke platform baru di bawah manajemen AS.
Namun, hingga kini detail mengenai nama platform baru tersebut, fitur-fitur yang tersedia, maupun perbedaannya dengan aplikasi asli masih dirahasiakan.
Kilas Balik: Dari Pelarangan hingga Perubahan Sikap Trump
Perjalanan menuju kesepakatan ini sangat berliku. Drama dimulai pada Agustus 2020 saat Donald Trump menandatangani perintah eksekutif pertama untuk melarang TikTok.
Setelah melalui berbagai gugatan hukum dan pergantian pemerintahan ke Joe Biden, isu ini terus memanas hingga TikTok menggugat pemerintah AS atas dasar pelanggaran hak Amandemen Pertama.
Menariknya, Donald Trump yang kini kembali ke tampuk kekuasaan berubah pikiran dari niat awal melarang total menjadi mendukung kesepakatan kepemilikan bersama.
Kesepakatan ini dikabarkan telah mendapat lampu hijau dari Presiden Tiongkok, Xi Jinping, demi memastikan platform tetap tersedia bagi jutaan warga Amerika.
Sebelum Oracle terpilih, sejumlah nama besar sempat ikut bersaing dalam "lelang" raksasa ini, mulai dari konsorsium pimpinan Frank McCourt (didukung pendiri Reddit dan pencipta World Wide Web), hingga kelompok pimpinan YouTuber MrBeast dan raksasa ritel Walmart.
PERISTIWA | 2 hari yang lalu
HUKUM | 2 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
HUKUM | 2 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
HUKUM | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
HUKUM | 2 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu






