Indonesia Capai Swasembada Beras 2025 dengan Stok Tertinggi, 3 Faktor Ini Jadi Kunci

Oleh: Tim Redaksi
Selasa, 06 Januari 2026 | 14:00 WIB
Warga memikul beras usai mengambil bantuan pangan gratis di Balai RW 03 Kelurahan Menteng, Jakarta, Rabu, (12/11/2025). (Berita nasional.com/Oke Atmaja)
Warga memikul beras usai mengambil bantuan pangan gratis di Balai RW 03 Kelurahan Menteng, Jakarta, Rabu, (12/11/2025). (Berita nasional.com/Oke Atmaja)

BeritaNasional.com - Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) resmi menyatakan Indonesia telah berhasil mencapai swasembada beras pada 2025. 

Pencapaian ini ditandai dengan catatan stok beras nasional yang menyentuh angka tertinggi dalam sejarah tanpa adanya impor beras konsumsi.

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengungkapkan bahwa keberhasilan ini diukur melalui tiga indikator utama yang sangat kuat.

"Artinya tiga sisi ini yang menunjukkan kita bisa menyatakan bahwa posisi kita swasembada," kata Ketut di Jakarta pada Selasa (6/1/2026).

Ketut memerinci tiga alasan mengapa Indonesia layak menyandang status swasembada di tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Pertama, nol impor. Indonesia tercatat tidak melakukan impor beras konsumsi sepanjang tahun 2025.

Kedua, surplus produksi. Jumlah produksi nasional jauh melampaui tingkat konsumsi masyarakat.

Ketiga, stok Bulog melimpah. Cadangan beras di gudang Bulog relatif sangat tinggi, yakni menembus angka di atas 3 juta ton pada akhir tahun.

Hal ini sejalan dengan standar Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO). Suatu negara tetap dikategorikan swasembada jika impornya di bawah 10 persen dari kebutuhan. Namun, Indonesia melampaui standar tersebut dengan menghentikan impor sama sekali.

"Apalagi sekarang secara tegas Bapak Presiden (Prabowo Subianto) dan Bapak Kepala Bapanas (Andi Amran Sulaiman) jelas mengatakan tidak ada impor beras konsumsi. Jadi tentu dengan ini, kalau boleh dikatakan ini arahnya sudah swasembada," tutur Ketut.

Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Nasional 2025 yang diolah bersama BPS dan kementerian terkait, angka produksi beras nasional mencapai 34,71 juta ton. 

Sementara itu, total kebutuhan konsumsi setahun berada di angka 31,19 juta ton, sudah termasuk untuk program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Kalau kita melihat berdasarkan data dari BPS, produksi beras kita kan lebih dari 34 juta ton di tahun 2025. Sementara kebutuhan kita kan hampir 31 juta ton. Kita punya surplus 3 juta ton. Itu saja sudah menandakan kita sudah swasembada," jelas Ketut.

Kondisi Stok Awal 2026: Sangat Aman

Keberhasilan surplus di tahun 2025 membuat Indonesia memulai tahun 2026 dengan posisi yang sangat kuat. 

Total stok beras yang tersebar di masyarakat, pedagang, distributor, hingga Bulog mencapai 12,529 juta ton.

Dengan kebutuhan konsumsi bulanan sekitar 2,5 juta ton, stok yang ada saat ini dianggap lebih dari cukup untuk menjaga ketahanan pangan nasional, terutama menjelang panen raya pada Maret dan April mendatang.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memberikan peringatan keras kepada oknum yang mencoba memainkan harga di pasar.

"Stok beras kita sangat aman. Tanpa impor, stok kita (CBP) lebih dari 3 juta ton. Itu tertinggi sepanjang sejarah. Beras kita surplus," tegas Amran.

"Jadi tidak ada masalah sampai Ramadhan (2026) dan tidak boleh ada yang bermain harga. Kalau ada yang melanggar, kita tindak bersama Satgas Pangan Polri," tandasnya.

 sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: