Reza Pahlavi Siapkan Masa Transisi Kekuasaan Iran

Oleh: Dyah Ratna Meta Novia
Rabu, 14 Januari 2026 | 01:30 WIB
Reza Pahlavi, putra mendiang Shah Iran yang digulingkan (Foto/Instagram Reza Pahlavi)
Reza Pahlavi, putra mendiang Shah Iran yang digulingkan (Foto/Instagram Reza Pahlavi)

BeritaNasional.com - Reza Pahlavi, putra mendiang Shah Iran yang digulingkan dalam Revolusi Islam 1979 mengatakan, pihaknya tengah menyiapkan rencana transisi kekuasaan bagi Iran melalui Iran Prosperity Project. Ini dilakukan dengan tahapan perubahan konstitusi dan pemilu nasional usai pencopotan otoritas yang berkuasa saat ini.

Dalam wawancara dengan surat kabar Italia Corriere della Sera, Pahlavi mengatakan, pihaknya telah lama mempersiapkan skenario tersebut.

Ia mengatakan, tidak akan terjadi kekosongan kekuasaan karena tahap awal rencana akan difokuskan pada langkah-langkah darurat selama 180 hari pertama, untuk menjamin kesinambungan layanan publik dan keamanan.

Tahap berikutnya adalah fase stabilisasi, mencakup pemulihan fungsi negara, penyediaan layanan dasar, pemulihan kepercayaan ekonomi, serta menjaga tata kelola pemerintahan dasar.

Setelah itu, kata dia, Iran akan memasuki proses konstitusional yang diakhiri dengan pemilihan umum nasional.

Saat ditanya apakah ia berniat kembali berkuasa dan memulihkan sistem monarki, Pahlavi mengatakan, perannya tidak akan berpihak pada bentuk negara tertentu, baik monarki maupun republik.

Ia menyatakan akan bersikap netral sepanjang proses transisi.

“Saya ingin rakyat Iran akhirnya dapat menggunakan hak mereka untuk memilih secara bebas,” ujar Pahlavi, seraya menekankan bahwa masa depan sistem politik Iran harus ditentukan sepenuhnya oleh kehendak rakyat melalui mekanisme demokratis.

Pahlavi mengatakan, Iran Prosperity Project juga menyediakan peta jalan pemulihan ekonomi dan reintegrasi Iran ke komunitas internasional.

Program tersebut, menurutnya, melibatkan lebih dari 100 pakar dari dalam dan luar negeri yang bekerja merancang kebijakan untuk memulihkan stabilitas ekonomi, membuka kembali hubungan internasional, serta menciptakan fondasi pertumbuhan jangka panjang setelah transisi kekuasaan.

Sementara itu, Iran dilanda gelombang protes sejak akhir Desember 2025, dipicu kekhawatiran atas lonjakan inflasi akibat melemahnya nilai tukar rial.

Aksi unjuk rasa meningkat sejak 8 Januari setelah seruan dari Reza Pahlavi, dengan pawai protes berlangsung di sejumlah kota.

Sumber: Antarasinpo

Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Komentar: