Pemprov DKI Bongkar Tiang Monorel, Sutiyoso: Jujur, Hati Saya Lega Sekali

Oleh: Lydia Fransisca
Rabu, 14 Januari 2026 | 17:28 WIB
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung (dua dari kiri) bersama mantan Gubernur Jakarta Sutiyoso (dua dari kanan). (Beritanasional/Lydia)
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung (dua dari kiri) bersama mantan Gubernur Jakarta Sutiyoso (dua dari kanan). (Beritanasional/Lydia)

BeritaNasional.com - Pemprov DKI Jakarta mulai membongkar tiang-tiang monorel di Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan, pada Rabu (14/1/2026).

Proses pembongkaran tersebut turut disaksikan mantan Gubernur Jakarta Sutiyoso atau Bang Yos yang mencanangkan proyek monorel tersebut pada 2004.

Bang Yos mengaku lega melihat sisa-sisa proyek monorel yang mangkrak selama bertahun-tahun itu akhirnya dibongkar.

"Jujur saja, hari ini hati saya itu lega sekali gitu ya dengan adanya kepastian yang dicanangkan ya oleh Pak Gubernur Pramono pada pagi hari ini gitu," kata Bang Yos kepada wartawan.

Bang Yos mengatakan, selama ini, dirinya terganggu saat melintas di Jalan Rasuna Said dan Jalan Asia Afrika karena harus melihat sisa-sisa proyek monorel yang mangkrak.

"Saya sekali lagi secara pribadi saya terima kasih. Mudah-mudahan, kalau saya lewat ini, enggak sakit mata lagi saya suatu saat yang selama ini terus terpikir gini," ujar Bang Yos.

Bukan hanya itu, Bang Yos turut mengisahkan awal mula proyek monorel yang dicanangkan sejak 2003 saat sistem transportasi publik Jakarta masih mengandalkan angkutan kota dan bus kota.

Ia menjelaskan proyek monorel tersebut dirancang sebagai bagian dari solusi jangka panjang mengatasi kemacetan Jakarta.

"Nah, saat proses ini dilakukan yang memakan waktu berbulan-bulan tentunya karena dilakukan survei segala macam, saya studi banding ke beberapa negara ya," ucap Bang Yos.

Salah satu negara yang menjadi tujuan studi banding adalah Bogota, Kolombia. Dari hasil kajian tersebut, Pemprov DKI saat itu merancang empat moda transportasi terintegrasi, yakni MRT, monorel, busway, dan waterway.

"Dan, ini dirancang secara terintegrasi, jalurnya sudah masing-masing, tetapi terintegrasi, sehingga rakyat Jakarta dan sekitarnya dari titik mana mau ke mana pasti dapat transportasi makro tadi," papar Bang Yos.

Bang Yos mengatakan pembangunan busway yang kini dikenal sebagai Transjakarta dilakukan lebih dahulu sebagai langkah cepat mengatasi kemacetan. Sementara itu, pembangunan monorel dirancang sebagai solusi jangka panjang.

"Nah, untuk mengejar kecepatan, menanggulangi kemacetan ini, secara paralel kita bangun juga monorel gitu kan. Nah, karena itu 2004 supaya cepat bisa kita selesaikan dicanangkan oleh Presiden Megawati. Artinya, saat dicanangkan presiden itu berarti segala sesuatunya itu sudah ada," jelasnya.

Namun, setelah masa jabatannya berakhir pada 2007, proyek monorel tersebut terhenti. Pada 2014, rencana monorel kemudian digantikan dengan proyek LRT.

"Terus mangkrak jadi besi tua seperti ini, dan tahun 2014 monorel ini diganti dengan LRT, yang tidak ada rencana sebelumnya," ujar Bang Yos.

"Tentu, gubernur waktu itu punya alasan yang saya tidak tahu ya. Nah, sejak itulah mangkrak total ini, jadi besi tua, jadi apa namanya barang seperti ini yang merusak estetika kota gitu," tandasnya.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: