Kemenhub Tegaskan Pesawat ATR 42-500 Laik Terbang Saat Insiden

Oleh: Bachtiarudin Alam
Senin, 19 Januari 2026 | 15:34 WIB
Basarnas menemukan dugaan badan dan ekor pesawat ATR 42-500 di lereng gunung, Maros, Sulsel, Minggu (18/1/2026). (BeritaNasional/Basarnas)
Basarnas menemukan dugaan badan dan ekor pesawat ATR 42-500 di lereng gunung, Maros, Sulsel, Minggu (18/1/2026). (BeritaNasional/Basarnas)

BeritaNasional.com - Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengungkap kondisi pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang jatuh di Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, setelah hilang kontak Sabtu (17/1/2026).

“Berdasarkan data pengawasan dan hasil inspeksi kelaikudaraan, pesawat ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT dinyatakan memenuhi persyaratan kelaikudaraan,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa dalam keteranganya, Senin (19/1/2026).

Data kelaikudaraan atau kelayakan secara teknis untuk beroperasi, didukung oleh pelaksanaan pemeriksaan dan inspeksi yang secara berkala telah dilakukan pada 19 November 2025 di Bandar Udara Sam Ratulangi, Manado.

Pengecarakan itu terkait ramp check yang dilakukan Inspektur Kelaikudaraan Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah VIII Manado. Lalu, inspeksi Perpanjangan Sertifikat Kelaikudaraan (Certificate of Airworthiness/C of A) dilaksanakan pada 3 September 2025.

Selanjutnya, Inspeksi terakhir oleh operator Indonesia Air Transport (IAT) dilaksanakan sesuai dengan program perawatan Calendar Month 4.5 MO pada total waktu terbang 24.959,62 flight hours, pada tanggal 25 Desember 2025.

“Data tersebut menunjukkan bahwa pesawat telah menjalani pemeriksaan rutin serta pengawasan kelaikudaraan secara berkala dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” jelasnya.

Sementara dari informasi awal, didapati kondisi cuaca saat kejadian menunjukkan jarak pandang (visibility) sekitar 8 kilometer dengan kondisi sedikit berawan. Informasi cuaca secara lebih rinci dan terkini terus dikoordinasikan dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

“Pada tahap ini, belum dapat ditarik kesimpulan mengenai faktor penyebab kejadian dan kondisi cuaca merupakan salah satu aspek yang akan dianalisis lebih lanjut dalam proses investigasi oleh KNKT,” tegasnya.

Perlu diketahui Pesawat ATR milik Indonesia Air Transport (IAT) rute Yogyakarta - Makassar sempat bertolak dari Bandara Adisutjipto Yogyakarta menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar namun hilang kontak di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan pada Sabtu (17/1/2026) kemarin siang. 

Pesawat total turut membawa kru di antaranya; Kapten Andi Dahananto, Muhammad Farhan Gunawan, Restu Adi, Dwi Murdiono, Florencia lolita, Esther Aprilia, dan Dwi Murdiono

Lalu tiga penumpang dari tim air surveillance Direktorat Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) yakni Analisa Pengamat, Penata Muda Tingkat 1 Ferry Irrawan, Penata Muda 1, Deden Mulyana selaku Pengelola Barang Milik Negara, dan Yoga Naufal selaku Operator Foto Udara.

Sementara dari Polda Sulawesi Selatan (Sulsel) telah menetapkan RS Bhayangkara Makassar sebagai rumah sakit rujukan untuk pelaksanaan pemeriksaan antemortem terkait identifikasi identitas para korban nantinya.sinpo

Editor: Harits Tryan
Komentar: