Pemprov DKI Minta Bank Jakarta Perkuat Budaya Kerja Jelang IPO

Oleh: Lydia Fransisca
Jumat, 23 Januari 2026 | 06:30 WIB
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat diwawancarai. (BeritaNasional/Lydia)
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat diwawancarai. (BeritaNasional/Lydia)

BeritaNasional.com - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan pentingnya membangun corporate culture sebagai fondasi utama Bank Jakarta dalam sebelum melantao di bursa efek atai initial public offering (IPO). 

Penegasan tersebut disampaikan Pramono saat memberikan sambutan dalam rapat kerja Bank Jakarta di Hotel Pullman, Podomoro City, Jakarta Barat, Kamis (22/1/2026).

Pramono mengatakan, corporate culture harus dibentuk sejak dini dan menjadi budaya kerja yang melekat pada seluruh insan Bank Jakarta. 

Menurutnya, budaya kerja yang kuat akan menentukan arah dan kualitas kinerja perusahaan, khususnya dalam menghadapi tantangan sebagai perusahaan publik.

"Untuk menjadi bank IPO, corporate culture itu harus betul-betul dibentuk dan sudah menjadi bagian inheren dari perusahaan," kata Pramono.

Selain budaya kerja, Pramono juga menyoroti pentingnya membangun teamwork yang efektif.

Ia mendorong jajaran Bank Jakarta untuk mengedepankan pola kerja work smart dibandingkan sekadar work hard, mengingat sektor perbankan menuntut ketepatan, efisiensi, dan kecermatan dalam pengambilan keputusan.

"Saya menyarankan karena ini dunia perbankan, enggak perlu terlalu work hard, tetapi harus work smart," ujar Pramono.

Pramono menilai, team work yang bekerja secara cerdas, disiplin, dan didukung kultur organisasi yang kuat akan mendorong perubahan cara kerja Bank Jakarta, sekaligus menciptakan proses pengambilan keputusan yang lebih transparan.

"Kalau transparansi sudah terbentuk, ruang untuk sengketa, intrik, dan kepentingan personal akan hilang dengan sendirinya," ucap Pramono.

Lebih lanjut, Pramono juga meminta Bank Jakarta mengedepankan profesionalisme melalui peningkatan efisiensi dan pemangkasan birokrasi.

Menurut Pramono, birokrasi yang berlebihan tidak boleh berkembang di entitas bisnis karena dapat menurunkan daya saing dan kepercayaan publik.

"Kalau orang datang ke Bank Jakarta lalu melihat birokrasinya panjang, perusahaan tidak akan dianggap menjanjikan," jelasnya.

Selanjutnya, Pramono menekankan bahwa kunci utama dalam dunia usaha adalah trust atau kepercayaan. 

Ia berharap Bank Jakarta tidak hanya bergantung pada Pemprov Jakarta sebagai nasabah utama, melainkan mampu membangun kepercayaan publik secara luas.

"Kalau trust sudah terbangun, nasabah utamanya bukan lagi hanya Pemprov DKI, tetapi publik," tegas Pramono.

Pramono berharap nilai teamwork, transparansi, debirokratisasi, serta kemampuan problem solving dapat menjadi bagian tak terpisahkan dari corporate culture Bank Jakarta. 

Ia optimistis, dengan konsistensi penerapan nilai-nilai tersebut, Bank Jakarta dapat melantai di bursa pada tahun depan.

"Saya yakin mudah-mudahan di tahun depan Bank Jakarta sudah IPO, Bank Jakarta sudah menjadi milik publik, dipercaya publik, dan yang paling penting adalah teamwork yang ada di Bank Jakarta semakin solid, semakin kuat, dan semakin berorientasi untuk memberikan kontribusi bagi Jakarta," jelas Pramono.

Di kesempatan yang sama, Direktur Utama Bank Jakarta Agus Haryoto Widodo menegaskan kesiapan manajemen untuk menindaklanjuti penguatan corporate culture sekaligus mempersiapkan IPO. 

Agus mengatakan, Bank Jakarta telah menyiapkan tiga inisiatif strategis yang akan dieksekusi sepanjang 2026 guna memperkuat fundamental dan meningkatkan kepercayaan investor.

"Sebagai bagian dari upaya memperkuat fundamental Bank Jakarta dan meningkatkan kepercayaan calon investor, kami menyiapkan tiga inisiatif besar strategis sepanjang 2026," kata Agus.

Inisiatif pertama adalah pembangunan infrastruktur teknologi informasi yang lebih andal, termasuk pengembangan dua data center modern dan resilient, perbaikan aplikasi inti, serta penguatan sistem keamanan siber.

"Kami akan mengembangkan dua data center yang modern dan resilient, memperbaiki aplikasi inti, serta memperkuat sistem keamanan siber," ujar Agus.

Agus menargetkan proyek tersebut rampung pada September 2026 sebagai fondasi keandalan operasional dan mitigasi risiko jangka panjang. 

Inisiatif kedua adalah pengembangan aplikasi mobile banking generasi baru yang dirancang lebih andal, aman, cepat, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat Jakarta.

"Aplikasi ini kami rancang agar lebih reliable, aman, cepat, mudah digunakan, efisien secara biaya, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat Jakarta," ujar Agus.

Aplikasi tersebut ditargetkan dapat diluncurkan pada Juni 2026 dengan tetap memenuhi seluruh ketentuan perizinan regulator. 

Sementara itu, inisiatif ketiga difokuskan pada penguatan portofolio produk, salah satunya melalui peluncuran kartu kredit.

"Kami juga tengah mempersiapkan produk Kartu Kredit Bank Jakarta yang diharapkan menjadi revenue pool baru sekaligus melengkapi ekosistem transaksi nasabah," tandasnya.
 sinpo

Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Komentar: