Kekhawatiran Komisi I DPR soal Iuran Anggota Dewan Perdamaian Buatan Trump
BeritaNasional.com - Anggota Komisi I DPR RI Syamsu Rizal menyoroti iuran keanggotaan Dewan Perdamaian (Board f Peace) yang dibentuk Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebesar 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp16,7 triliun. Ia khawatir iuran tersebut digunakan untuk mendukung aksi militer Israel.
"Saya khawatir uang iuran itu dipakai untuk membunuh warga Gaza dengan dalih melucuti senjata Hamas. Padahal Hamas adalah pasukan yang membela rakyat Gaza dari kezaliman Israel," ujar Syamsu Rizal dalam keterangannya, dikutip Senin (2/2/2026).
Syamsu Rizal pun mengecam serangan Israel ke Kamp Pengungsi Ghaith, Al-Mawasi, Khan Younis, Jalur Gaza, Sabtu (31/1/2026). Serangan tersebut dinilai sebagai bentuk kejahatan kemanusiaan dan tidak dapat dibenarkan.
"Ini adalah serangan biadab yang mencederai nilai-nilai kemanusiaan dan merusak gencatan senjata. Dunia internasional tidak boleh diam," tegasnya.
Ia pun menyoroti fakta bahwa serangan tersebut terjadi tak lama setelah deklarasi pembentukan Dewan Perdamaian. Menurutnya, aksi Israel justru menghancurkan kredibilitas lembaga perdamaian yang baru dibentuk itu.
"Serangan ini merusak gencatan senjata sekaligus mencoreng citra Board of Peace. Israel jelas tidak layak menjadi anggota Dewan Perdamaian," tukasnya.
Karena itu, Syamsu Rizal mendorong Israel dikeluarkan dari anggota Dewan Perdamaian karena sebagai negara penjajah yang terus-menerus membunuh rakyat Gaza, Israel tidak pantas duduk dalam forum yang mengatasnamakan perdamaian.
"Jika Israel tetap menjadi anggota BoP, maka organisasi ini hanya akan dijadikan alat untuk melegitimasi pembunuhan warga Gaza dan pengusiran rakyat Palestina dari tanahnya sendiri," ujarnya.
Syamsu Rizal pun mendesak Pemerintah Indonesia agar bersikap tegas sebagai bagian dari BoP. Pemerintah Indonesia harus lantang mengkritik dan mengutuk aksi biadab Israel.
"Indonesia tidak boleh terjebak dalam forum perdamaian yang justru dipakai untuk melegitimasi penjajahan dan pembantaian," pungkasnya.
GAYA HIDUP | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
PERISTIWA | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu







