Harga Emas Meroket, KPK Temukan Tren Baru Suap Berbentuk Logam Mulia
BeritaNasional.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengendus adanya dugaan pemberian suap dalam kasus korupsi yang kini memanfaatkan benda berharga, salah satunya emas yang nilainya semakin melambung seiring waktu.
"Kemudian tren yang disampaikan, memang benar apalagi sekarang, tren harga emas yang dalam beberapa bulan terakhir ini terus meninggi ya menanjak gitu ya," kata Plt Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu saat jumpa pers di gedung KPK, Kuningan, Jakarta, Kamis (5/2/2026) malam.
Menurut Asep, alasan pemilihan emas digunakan sebagai transaksi suap. Karena efisiensi barang yang kecil dan ringkas namun memiliki nilai ekonomi tinggi.
"Kan jadi barang yang digunakan untuk memberikan suap itu biasa adalah barang-barang yang ringkas, barang-barang yang kecil tetapi menilai besar. Ya yang legal, artinya yang legal ya," jelas dia.
Barang bernilai tinggi lain yang juga kerap digunakan penyuap adalah mata uang asing. Karena pemilihan barang kecil dengan nilai tinggi akan mudah dibawa-bawa.
"Membawanya mudah, ringkas, diberikannya tidak berat. Begitu pun juga dengan emas, memang betul trennya seperti itu ya tentunya dengan beberapa kali kita melakukan mendapatkan barang bukti pada saat tertangkap tangan ini berupa emas, ya kita juga jadi aware gitu ya seperti itu," sebutnya.
Selain emas dan mata uang asing, KPK juga memantau instrumen lain seperti kripto. Hal ini dimaksudkan untuk mewaspadai penggunaan instrumen dengan nilai tinggi tersebut untuk korupsi.
"Walaupun ada hal-hal lain seperti cryptocurrency dan yang lainnya, juga teman-teman di penyidikan, di Kedeputian Pendanaan Eksekusi juga sudah mulai melihat hal itu," sebutnya.
Kendati demikian, KPK belum membuat tim khusus memantau harga emas yang saat ini melonjak tinggi. Karena dalam memantau kondisi ini, KPK harus melakukan kerjasama dengan pihak lain.
"Tapi untuk pembentukan timnya sendiri, pemantauan itu akan mudah kita melihat pergerakan harga emasnya. Kita lebih fokus untuk saat ini, apalagi secara sumber daya manusia, khususnya di dalam Kedeputian Pendakana ini masih kekurangan," ucapnya.
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
POLITIK | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
DUNIA | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu







