Prediksi Musim Kemarau BMKG, Catat Puncak Musim dan Wilayahnya!

Oleh: Kiswondari
Kamis, 05 Maret 2026 | 07:57 WIB
Ilustrasi musim kemarau. (BeritaNasional/Gemini AI-Kiswondari)
Ilustrasi musim kemarau. (BeritaNasional/Gemini AI-Kiswondari)

BeritaNasional.com - Sudah memasuki Maret 2026, hujan masih mengguyur sebagian besar wilayah Indonesia. Lantas, kapan musim kemarau tiba? Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau lebih awal di 2026 dibandingkan rerata klimatologinya.

Berakhirnya fenomena La Niña Lemah pada Februari 2026 turut memicu kondisi ini, dan kini telah bergeser ke fase Netral dan berpotensi menuju El Niño pada pertengahan tahun.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan, pemantauan anomali iklim global di Samudera Pasifik menunjukkan nilai indeks ENSO saat ini berada pada angka -0,28 (Netral) dan diprediksi bertahan hingga Juni 2026. Namun, mulai pertengahan tahun peluang munculnya El Niño kategori Lemah-Moderat sebesar 50-60% mulai semester kedua tahun ini perlu menjadi perhatian.

“Sementara itu, kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi tetap stabil pada fase Netral sepanjang tahun,” kata Faisal dalam Konferensi Pers Prakiraan Awal Musim Kemarau 2026 di Jakarta, yang dikutip Kamis (5/3/2026).

Faisal menjelaskan, peralihan Angin Baratan (Monsun Asia) menjadi Angin Timuran (Monsun Australia) juga menjadi penanda dimulainya musim kemarau. BMKG mencatat, sebanyak 114 Zona Musim (ZOM) atau 16,3 persen wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau pada April 2026, mencakup pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, NTB, NTT, serta sebagian kecil Kalimantan dan Sulawesi.

Sementara itu, Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menguraikan, 184 ZOM atau 26,3 persen wilayah Indonesia menyusul masuk musim kemarau pada Mei 2026, dan 163 ZOM atau 23,3 persen wilayah pada Juni 2026.

Berdasarkan data itu, Ardhasena menegaskan awal kemarau di 325 ZOM atau 46,5 persen wilayah Indonesia diprediksi maju atau terjadi lebih cepat dari biasanya, 173 ZOM atay 24,7 persen sama dan 72 ZOM atau 10,3 persen mundur.

“Wilayah yang diprediksi mengalami awal kemarau lebih maju meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian wilayah Papua,” terangnya.

Hasil analisis BMKG menunjukkan, puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi terjadi pada bulan Agustus 2026, yang mencakup 429 ZOM atau sekitar 61,4 persen wilayah Indonesia. Wilayah lain akan mengalami puncak kemarau pada Juli sebanyak 12,6 persen wilayah dan pada September sebanyak 14,3 persen wilayah. 

Berikut adalah daftar wilayah Indonesia yang memasuki puncak musim kemarau di 2026:

1. Puncak Musim Kemarau Bulan Juli

• Sebagian wilayah Sumatra

• Kalimantan bagian tengah dan utara

• Sebagian kecil Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga wilayah barat Pulau Papua.

2. Puncak Musim Kemarau Bulan Agustus

• Sumatra bagian tengah dan selatan

• Jawa Tengah hingga Jawa Timur

• Sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi

• Seluruh wilayah Bali dan Nusa Tenggara

• Sebagian Maluku dan Pulau Papua.

3. Puncak Musim Kemarau Bulan September

• Sebagian Lampung

• Sebagian kecil Jawa

• Sebagian besar NTT

• Sulawesi bagian utara dan timur

• Sebagian besar Maluku Utara

• Sebagian Maluku

• Sebagian kecil Pulau Papua.

Selain itu, BMKG juga memproyeksikan sifat musim kemarau 2026 secara umum akan bersifat Bawah Normal atau lebih kering dari biasanya di 451 ZOM atau 64,5 persen wilayah Indonesia dan Normal di 245 ZOM atau 35,1 persen wilayah Indonesia. Sebaliknya, hanya terdapat 3 ZOM atau 0,4 persen di wilayah Gorontalo dan Sulawesi Tenggara yang berpotensi mengalami kemarau Atas Normal atau lebih basah.

“Dengan kondisi ini, durasi musim kemarau di 57,2 persen wilayah Indonesia diprediksi lebih panjang dari normalnya,” tambah Faisal.

Menanggapi berbagai risiko yang mungkin terjadi di musim kemarau 2026, Faisal menekankan pentingnya langkah antisipasi bagi kementerian, lembaga, pemerintah daerah, hingga seluruh lapisan masyarakat. Di sektor pangan, para petani perlu segera menyesuaikan jadwal tanam dengan memilih varietas yang lebih hemat air, tahan kekeringan, serta memiliki siklus panen yang lebih singkat.

“Langkah ini harus dibarengi dengan penguatan sektor sumber daya air melalui revitalisasi waduk dan perbaikan jaringan distribusi demi menjamin ketersediaan air bersih bagi kebutuhan domestik maupun operasional PLTA di sektor energi,” ujarnya.

Selain manajemen air, kewaspadaan terhadap dampak lingkungan juga perlu menjadi prioritas utama. Pemerintah daerah (Pemda) pun perlu menyiapkan mekanisme respons cepat untuk menghadapi penurunan kualitas udara dan meningkatkan kesiapsiagaan di sektor kehutanan guna mencegah potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“BMKG menegaskan bahwa seluruh informasi prediksi ini merupakan bentuk peringatan dini (Early Warning) yang harus segera diterjemahkan menjadi aksi nyata (Early Action) oleh para pemangku kepentingan demi meminimalkan risiko bencana kekeringan di Indonesia,” pungkasnya.sinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: