Pemprov DKI Kerahkan 1.200 Pompa Air Tangani Banjir Usai Hujan Ekstrem

Oleh: Tim Redaksi
Senin, 09 Maret 2026 | 01:00 WIB
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. (Foto/Dinas Kominfotik Pemprov DKI Jakarta).
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. (Foto/Dinas Kominfotik Pemprov DKI Jakarta).

BeritaNasional.com - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bergerak cepat menangani genangan dan banjir setelah hujan deras mengguyur wilayah Jakarta sejak Sabtu malam hingga Minggu (8/3/2026). Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta mengerahkan ribuan petugas ke lapangan serta mengoperasikan pompa air untuk mempercepat surutnya genangan.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengatakan curah hujan yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya tergolong sangat tinggi. Dalam satu hari, intensitas hujan tercatat mencapai 264 milimeter, jauh di atas rata-rata curah hujan harian.

“Hari ini di Jakarta dan sekitarnya, curah hujan mencapai 264 milimeter per hari. Itu termasuk curah hujan yang sangat tinggi,” ujar Pramono di Jakarta, Minggu (8/3/2026).

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan ekstrem tercatat terjadi di dua wilayah, yakni Sunter Hulu di Cilangkap, Jakarta Timur, serta di kawasan Pompa Arcadia, Kalibata, Jakarta Selatan.

Pramono menjelaskan, sejak Sabtu malam Pemprov DKI langsung mengoordinasikan langkah penanganan bersama jajaran terkait, terutama Dinas SDA. Sejumlah pompa air di titik rawan genangan langsung dioperasikan untuk mempercepat penyedotan air.

“Sejak semalam saya sudah berkoordinasi dengan jajaran, terutama Dinas Sumber Daya Air. Bahkan di beberapa titik pemompaan sudah dilakukan sejak malam,” ungkap Pramono.

Untuk mempercepat penanganan genangan, Pemprov DKI mengerahkan sekitar 1.200 unit pompa pengendali banjir. Jumlah tersebut terdiri dari 668 unit pompa stasioner yang tersebar di 243 lokasi serta 536 unit pompa mobile yang ditempatkan di berbagai titik rawan banjir.

Penyedotan air terus dilakukan di sejumlah wilayah terdampak, antara lain di kawasan Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat, serta beberapa ruas jalan utama lainnya.

Selain curah hujan tinggi di Jakarta, Pramono juga mengingatkan adanya potensi tambahan debit air yang berasal dari wilayah hulu dan daerah penyangga seperti Bogor dan Tangerang yang turut diguyur hujan deras.

Berdasarkan pemantauan tinggi muka air (TMA) di sejumlah sungai yang mengalir di Jakarta, tercatat adanya kenaikan. Aliran Kali Ciliwung sempat berstatus Waspada dengan TMA lebih dari 750 cm di Pintu Air Manggarai pada Minggu (8/3/2026) pukul 02.00 WIB dan hampir mencapai status Siaga dengan ketinggian 845 cm pada pukul 07.00 WIB. Kondisi tersebut kemudian berangsur surut hingga kembali normal sekitar pukul 13.00 WIB di angka 715 cm.

Sementara itu, di hulu Kali Angke, TMA tercatat meningkat hingga mencapai 200 cm pada Sabtu pukul 16.00 WIB dengan status Waspada. Ketinggian air kemudian naik menjadi 250 cm pada pukul 18.00 WIB dengan status Siaga. Pada Minggu pukul 01.00 WIB, TMA di Angke Hulu bahkan mencapai lebih dari 300 cm dengan status Bahaya dan sempat menyentuh 400 cm pada pukul 07.00 WIB.

Kondisi serupa terjadi di aliran Cengkareng Drain yang mulai berstatus Waspada sejak Sabtu pukul 14.00 WIB dengan ketinggian 206 cm. TMA kemudian meningkat menjadi 276 cm pada pukul 16.00 WIB dengan status Siaga, lalu terus naik hingga mencapai 314 cm dengan status Bahaya pada Minggu pukul 01.00 WIB. Puncaknya, ketinggian air di Cengkareng Drain mencapai 380 cm pada pukul 08.00 WIB.

Di hulu Kali Sunter, TMA mulai meningkat pada Sabtu pukul 16.00 WIB dengan ketinggian 150 cm dan status Waspada. Ketinggian air kemudian naik menjadi 250 cm pada Minggu pukul 01.00 WIB dengan status Siaga. Puncaknya, TMA mencapai status Bahaya pada pukul 02.00 WIB dan 03.00 WIB sebelum akhirnya berangsur surut pada pukul 08.00 WIB.

Pramono menegaskan, tingginya curah hujan di wilayah hulu turut memengaruhi kondisi debit air di Jakarta. Ia pun mengimbau masyarakat untuk tetap waspada serta terus mengikuti informasi resmi terkait kondisi cuaca dan potensi genangan di wilayah masing-masing.

“Karena di wilayah atas, baik di Bogor maupun Tangerang, curah hujan juga tinggi, pasti ada air yang mengalir ke Jakarta,” tutur Pramono.sinpo

Editor: Harits Tryan
Komentar: