Momen Idul Fitri Berperan Penting Jaga Stabilitas Ekonomi Nasional
BeritaNasional.com - Idul Fitri 1447 Hijriah berperan penting menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus mendorong kinerja sektor industri.
Inspektur Jenderal Kementerian Perindustrian M Rum di Jakarta menerangkan peningkatan konsumsi masyarakat pada periode ini menjadi penggerak utama berbagai sektor industri khususnya makanan dan minuman, tekstil, serta pakaian jadi.
Meningkatnya aktivitas konsumsi masyarakat selama Ramadhan hingga menjelang Idul Fitri berkontribusi besar terhadap stabilitas ekonomi melalui pergerakan UMKM, serta sektor industri pengolahan.
Salah satu subsektor industri yang mengalami lonjakan permintaan menjelang Lebaran yakni industri makanan dan minuman, dengan tingkat utilisasi hingga 80%.
"Industri makanan dan minuman dalam negeri telah meningkatkan kapasitas produksi untuk mengantisipasi lonjakan permintaan selama Ramadhan dan Idul Fitri. Saat ini tingkat utilisasi industri makanan dan minuman berada pada kisaran 70–80 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata utilisasi normal sekitar 60%,” terangnya, Selasa (10/3/2026)
Lebih lanjut ia mengatakan pada 2025, sektor ini berkontribusi sebesar 52,09% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri nonmigas dan 9% terhadap PDB nasional, dengan pertumbuhan mencapai 4,95%.
Dari sisi perdagangan internasional, industri agro, termasuk makanan-minuman mencatat nilai ekspor sebesar 78,77 miliar dolar AS dan impor 21,19 miliar dolar AS, sehingga menghasilkan surplus neraca dagang sebesar 57,58 miliar dolar AS.
Selain itu, realisasi investasi di sektor industri agro pada 2025 mencapai Rp191,7 triliun dan mampu menyerap sekitar 10 juta tenaga kerja hingga Agustus 2025.
Capaian tersebut menunjukkan sektor agro tetap menjadi salah satu sektor yang diminati investor serta berperan penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi nasional.
Untuk memperkuat struktur industri agro, pemerintah terus menjalankan kebijakan hilirisasi berbasis sumber daya alam dalam negeri.
Program ini dilakukan dengan mengintegrasikan sektor hulu dan hilir dalam satu ekosistem industri yang saling terhubung guna menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.
Melalui pendekatan klaster berbasis wilayah, katanya, komoditas unggulan seperti kakao, sagu, dan kelapa diarahkan untuk diolah menjadi produk turunan di sektor pangan, farmasi, kosmetik hingga bioenergi.
Strategi ini diproyeksikan Kemenperin mampu meningkatkan nilai tambah komoditas hingga ratusan kali lipat dibandingkan penjualan bahan mentah. (Antara)

GAYA HIDUP | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
PERISTIWA | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu







