Kapolri: Konflik Iran-Amerika-Israel Picu Kenaikan Harga Minyak

Oleh: Bachtiarudin Alam
Rabu, 11 Maret 2026 | 21:48 WIB
Warga Iran turun ke jalan mengekspresikan kemarahan dan duka mereka menyusul kabar wafatnya, Ali Khamenei. (Foto/X: @FarsNews_Agency
Warga Iran turun ke jalan mengekspresikan kemarahan dan duka mereka menyusul kabar wafatnya, Ali Khamenei. (Foto/X: @FarsNews_Agency

BeritaNasional.com -  Perang antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel berpotensi semakin memanas. Konflik ini terjadi setelah serangkaian serangan yang menimbulkan dampak besar, termasuk bagi Indonesia.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan hal ini berdasarkan pemantauan eskalasi konflik global pasca kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dan pejabat Iran akibat serangan AS dan Israel.

“Di satu sisi, hampir 1.600 korban sipil meninggal dunia dan 15.000 orang luka-luka. Ini peristiwa yang sangat memprihatinkan bagi kita semua,” kata Sigit dalam acara buka bersama TNI-Polri di Lapangan Bhayangkara, Jakarta, Rabu (11/3/2026).

Iran mengibarkan bendera merah bulan sabit sebagai tanda pembalasan, yang kemudian dibalas oleh AS dan Israel. Pernyataan putra Ayatollah, Mojtaba Khamenei, bahwa Iran tidak akan menyerah, membuat situasi semakin memanas.

Harga minyak dunia sempat melonjak dari 77 USD per barel menjadi 100–110 USD per barel. Dampaknya, setiap kenaikan 1 USD menambah beban negara Indonesia sebesar Rp 6,8 triliun.

“Inflasi pasti akan terjadi, kebijakan fiskal akan diperketat, sehingga program pembangunan juga akan terdampak,” ujar Sigit. Namun, harga minyak sempat turun setelah pengumuman negara penghasil minyak melepas cadangan, dari 110 USD per barel menjadi 92,45 USD per barel untuk Brent, dan dari 94,77 USD menjadi 88 USD per barel untuk West Texas Intermediate.

“Tentu angka ini masih volatile dan sangat dipengaruhi situasi di Timur Tengah,” jelas Sigit.sinpo

Editor: Imantoko Kurniadi
Komentar: