BMKG: Kemarau 2026 Berpotensi Datang Lebih Awal

Oleh: Lydia Fransisca
Selasa, 17 Maret 2026 | 14:06 WIB
Ilustrasi musim kemarau. (BeritaNasional/Gemini AI-Kiswondari)
Ilustrasi musim kemarau. (BeritaNasional/Gemini AI-Kiswondari)

BeritaNasional.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 berpotensi datang lebih awal di sejumlah wilayah Indonesia.

Ketua Tim Kerja Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG Ida Pramuwardani mengatakan, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau secara bertahap mulai April hingga Juni 2026.

“BMKG memprediksi musim kemarau tahun 2026 berpotensi datang lebih awal di sejumlah wilayah Indonesia,” kata Ida kepada wartawan, dikutip Selasa (17/3/2026).

Ia menjelaskan, awal musim kemarau diperkirakan dimulai dari wilayah Nusa Tenggara, kemudian meluas ke wilayah lain di Indonesia. Bahkan saat ini, sebagian wilayah di Pulau Jawa sudah mulai memasuki musim kemarau.

“Pada saat ini, musim kemarau sudah memasuki beberapa wilayah di Pulau Jawa sehingga pola cuaca didominasi kondisi cerah hingga berawan tebal, namun masih terdapat potensi hujan sedang hingga lebat di beberapa daerah,” terang Ida.

Di sisi lain, BMKG mencatat suhu udara maksimum di Jakarta dalam beberapa hari terakhir tergolong tinggi.

“Dalam beberapa hari terakhir Suhu Udara maksimum yang terukur di wilayah Jakarta mencapai 35.4 derajat Celcius, tepatnya di wilayah Jakarta Timur,” ucap Ida.

Ia menjelaskan, kondisi suhu yang terasa lebih panas dipengaruhi sejumlah faktor, terutama pada masa peralihan musim.

“Kondisi tersebut sering terjadi pada masa peralihan musim (pancaroba) ketika langit cenderung lebih cerah pada siang hari sehingga pemanasan maksimum dapat berlangsung lebih kuat,” jelas Ida.

Menurut dia, fenomena suhu panas ini diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan, khususnya pada siang hari saat tutupan awan berkurang.

“Kondisi suhu udara yang terasa lebih panas diperkirakan masih dapat terjadi dalam beberapa hari ke depan, terutama pada siang hari ketika tutupan awan berkurang sehingga radiasi matahari dapat memanaskan permukaan secara lebih optimal,” tandasnya.sinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: